May 14, 2015

Buah Kemiskinan

Langit saat itu berwarna kelabu. Gumpalan-gumpalan awan pucat berarak seolah menuju ke arah kami. Aku berdiri bersamanya dengan penuh ragu dan curiga. Tatapanku saling lempar antara bangunan di depanku dan benda yang berada di genggaman tanganku.  Dengan tanda tanya yang berdesakan memenuhi kepala, pada akhirnya kami memberanikan diri untuk memasuki bangunan tersebut.

MUSEUM KEMISKINAN


sebagai Bukti Bahwa Kemiskinan Pernah Hidup di Sini Lalu Tiada



~

Suasana kampungku memang tidak pernah terlalu ramai dan tidak juga terlalu sepi. Orang-orang kampung beramah-tamah sewajarnya. Kendaraan lewat bergantian secara teratur dan tidak ada yang pernah berani membunyikan klakson. Rumah-rumah berjejer rapi dengan halaman yang tamannya selalu dijaga dengan baik. Orang-orang di kampungku tau benar bagaimana menjaga keindahan.

Siang hari yang terik itu aku habiskan bersamanya dengan membaca buku di bawah pos jaga yang di sekelilingnya dirindangi oleh pohon-pohon. Satu-dua burung gereja bergantian hinggap di atas kabel tiang listrik. Kami menikmati keheningan siang itu dan tanpa disadari mengundang kantuk untuk hadir di antara kami. Sampai di suatu ketika Pak Budi datang dari kejauhan dengan langkah yang tergesa-gesa. Ia membawa tas besar yang kepenuhan dan terlihat menggembung tidak wajar di beberapa sisi. Sepatu bootnya yang berhak tebal itu mengusir burung-burung gereja di atasku dan gerak-geriknya berhasil mengusir rasa kantukku.

Langkah-langkah cepat Pak Budi kemudian membuatnya tersandung kerikil yang tidak dilihat mata kakinya dan dengan bantuan angin siang itu, tasnya kemudian juga jatuh dan menumpahkan seluruh isinya. Berbungkus-bungkus buah kemiskinan berserakan dan menggelinding satu persatu. Kami bergegas menghampirinya dan berinisiatif untuk membantunya dengan memunguti satu per satu buah kemiskinan. Sambil memasukkan buah-buah itu ke dalam tas, aku bertanya kepada Pak Budi mau dikemanakan buah-buah itu. Pak Budi bilang bahwa ia mendapat permintaan untuk menjual buah-buah itu ke kampung sebelah dengan harga yang tinggi. Pak Budi mengatakan bahwa ini proyek besar. Ia menamainya dengan ‘menjual peradaban’. Nama yang berlebihan, batinku.

Setelah semua beres Pak Budi mengucapkan terima kasih dan langsung cepat-cepat meninggalkan kami. Aku menatap punggungnya yang semakin menjauh dan beringsut kembali ke pos jaga. Sembari duduk di bibir pos jaga yang terbuat dari bambu itu aku berpaling ke arah pohon kemiskinan.

Mengingatnya aku menghela panjang nafasku

Buah kemiskinan adalah barang yang dapat dibeli dalam sekantong kresek hitam dengan harga yang murah. Pohonnya tumbuh besar tepat di jantung kampung kami. Dahan dan rantingnya kuat serta daunnya yang lebat selalu menjadi favorit kami untuk bersandar di bawahnya. Buahnya yang bulat ranum  berwarna merah sebesar bola kastil dan baunya yang harum selalu menggelitik siapapun yang lewat untuk memetiknya, entah itu untuk dikonsumsi atau dijual kembali.  Kebiasaan ini telah lama kami jalani, padahal para pendiri kampung terdahulu berpesan agar tidak mengganggu pohon kemiskinan bahkan kalau perlu pohon itu ditebang, dicerabut sampai ke akar-akarnya. Buahnya beracun dan akan membawa hama yang besar dan bisa menjadi malapetaka bagi kampung kami. Namun orang-orang di kampungku tidak peduli walaupun mengambil bagian dari pohon kemiskinan adalah sebuah tindakan ilegal. Tidak heran jika Pak Budi sangat bersemangat dan menyesakkan tasnya sebisa mungkin dengan buah miskin sebanyak-banyaknya. Buah yang biasanya dijual dengan harga murah ditawar dengan harga yang mahal. 

Ketika sore datang, sekonyong-konyong seorang pria berambut gondrong dengan pakaian lusuh berlari-lari mengitari pohon kemiskinan. Ia memperingatkan orang-orang kampung betapa berbahayanya pohon kemiskinan dengan histeris. Tidak hanya sampai di situ, pria tersebut kemudian menghampiri setiap rumah dan mengatakan hal yang sama. Hal ini terus berulang sampai fajar hampir tiba keesokan harinya dan tidak ada satupun warga kampung yang berhasil menghentikan pria tersebut. Karena merasa sangat terganggu, orang-orang kampung sepakat untuk membakar pria tersebut di pohon kemiskinan dengan posisi tangan dan mulut yang diikat dengan tali.

Arogansi orang-orang kampung yang merasa paling bertanggungjawab atas keberlangsungan hidup penduduk kampung membawa pria itu menemui ajalnya. Api kemudian menghanguskan pria tersebut dan menjadikannya abu. Menjelang siang api merambat dan mulai membakar daun serta buah kemiskinan. Asap yang ditimbulkannya lalu menuju langit dan membentur awan yang sedang cerah-cerahnya.

Menerima pesan tersebut langit murka. Ia berubah menjadi magenta raksasa yang bercahaya dan menurunkan hujan petir yang tak ada putus-putusnya. Petir menghabisi apa saja yang dilihatnya dan orang-orang kampung berlarian ketakutan. Buah-buah kemiskinan yang jatuh dan menggelinding membakar apapun yang disentuhnya. Langit dan kemiskinan saling bekerja sama mengenyahkan isi kampung. Mereka bahu membahu menghabiskan apa yang sudah dilanggar selama bertahun-tahun.  Orang-orang kampung masuk ke dalam rumah namun rumah tak mampu lagi memberikan perlindungan. 

Aku dan dia ketakutan.

Kami lalu berlari masuk ke dalam ruang bawah tanah yang sudah kami buat beberapa waktu sebelumnya karena kami sadar bahwa kami butuh tempat yang aman untuk bersembunyi dari kebengisan yang terjadi di atas. Sementara itu dari bawah aku mendengar orang-orang kampung berlomba saling keras berteriak. Ada yang memaki, memohon ampun, dan menangis pasrah. Namun satu yang aku paham, mereka semua pada akhirnya yakin bahwa kemiskinan memang beracun!


“Aku tidak pernah memakanmu, buah kemiskinan! Tolong jangan bunuh aku,” isak seorang warga kampung.
“Tapi kamu melihat dan membiarkannya!”
“Aku tidak punya cara lain untuk hidup wahai kemiskinan.”
“Maka kamu lebih baik mati.”

Kami memberanikan diri untuk keluar setelah suasana kembali menjadi hening setelah entah berapa lama. Aku lalu melihat kampungku mati, kehilangan nafasnya. Langit sudah kembali jernih, namun di bawahnya mayat berserakan, serta rumah-rumah yang berubah menjadi remah-remah kekacauan. Sementara itu pohon kemiskinan masih berdiri tegaknya dengan hanya menyisakan satu buah kemiskinan tanpa daun dan dahan di batangnya.

Langit sore itu berwarna kelabu. Gumpalan-gumpalan awan pucat berarak seolah menuju ke arah kami. Aku berdiri bersamanya dengan penuh ragu dan curiga. Tatapanku saling lempar antara bangunan di depanku dan benda yang berada di genggaman tanganku.  Dengan tanda tanya yang berdesakan memenuhi kepala, pada akhirnya kami memberanikan diri untuk memasuki bangunan tersebut.

MUSEUM KEMISKINAN
sebagai Bukti Bahwa Kemiskinan Pernah Hidup di Sini Lalu Tiada

Museum itu kami buat dari tulang orang-orang kampung yang berserakan. Benar kata pendiri kampung dulu, kami seharusnya mencabut kemiskinan sampai ke akar-akarnya. Kami terlalu munafik untuk menjadi manusia modern yang berlaga seperti malaikat dan malah menghabiskan waktu untuk mengabaikan nilai-nilai yang memang seharusnya kami jaga.

Tiba-tiba saja aku dikagetkan dengan rasa panas di sakuku. Buah kemiskinan itu masih hidup! Aku sontak mengeluarkannya dari saku dan melemparnya begitu saja. Buah kemiskinan menatap kami dengan amarah yang begitu membara.

“Aku tidak pernah memakan dan menjualmu, buah kemiskinan. Jangan bunuh kami…”
“Tapi kamu melihat dan membiarkannya. Maka lebih baik kamu mati!”

Sadar waktu kami sudah semakin dekat dan tidak ada waktu untuk lari, aku menatapnya dan memberinya senyuman terbaik yang aku miliki. 

“Hey, aku selalu nyaman bila sedang bersamamu! Harusnya kita ikut berteriak bersama pemuda yang dibakar itu dan tidak membiarkan kemiskinan tumbuh dan menggerogoti kita.”

Aku menatapnya sekali lagi, sepatu karet Converse yang aku beli dari kerjaku memotong dahan-dahan kemiskinan yang mati.

April 30, 2015

Cicilan Motor yang Berbuah Filosofi yang (Sok) Bijak

Sebagai mantan mahasiswa psikologi, gue ngerasa sadar tahap perkembangan psikologis gue berantakan banget. Di usia gue yang masuk ke dalam kategori dewasa awal, gue sudah mengalami post-power syndrome yang harusnya dialami oleh orang-orang jompo. Di umur segini pun isu soal mencari tujuan hidup dan jati diri baru kebentuk padahal itu seharusnya terjadi di usia remaja. Namun karena gue tipe orang yang sangat berusaha menghargai proses, gue menganggap itu semua sebagai bentuk pembelajaran.

Sekarang gue kerja sebagai salah satu staff Human Resources di sebuah perusahan riset dengan konsentrasi ke rekrutmen.

Ketika lulus kuliah, gue janji gue gak mau ikutan kayak orang-orang kebanyakan, kalo anak psikologi itu kerjanya jadi HR. Gue juga sangat bangga sama diri gue karena gak ikut-ikutan temen-temen gue ke job fair, nyari kerjaan, apply di jobstreet sampai khatam list perusahaan dan hal-hal bodoh lainnya. Gue lebih milih buat kerja freelance, tidak terikat, dan kalau bisa harus sesuai sama passion gue. Dengan pengalaman kerja dan skill yang gue punya, gue yakin banget gue gak akan kesulitan nyari kerja. Alhamdulillah gue benar soal itu. Setiap posisi yang gue lamar, kebanyakan gue dapet dan kalo gak cocok, gue gak ragu buat ngelepehin itu kerjaan. Karena gue yakin kalo gue bisa dapet yang lebih baik dan gue tau maunya gue apa. Soal ini, gue yakin gue gak salah.

Lalu tibalah saat itu. Saat di mana motor gue mati total dan harus ganti baru dan gue harus membayar cicilan motor dan mengambil alih beberapa subsidi ekonomi keluarga yang menjadi tanggung jawab gue. Uang dari hasil kerja serabutan gue yang kadang-berlebihan-kadang-kurang-banget ternyata gak cukup untuk meng-handle itu semua dan tuntutan dari mana-mana yang hampir setiap harinya menanyakan apa pekerjaan gue dan jawaban gue yang asal tidak pernah memuaskan mereka. Gue juga heran kenapa sih harus peduli amat sama omongan orang.

Pada akhirnya di tahun 2015 gue membuat resolusi, gue harus dapet kerja supaya bisa naik gunung abis lebaran! See?! Tujuan gue jelas banget! Hahahaha! Alasan ke dua adalah, cicilan motor gue harus dibayar, gue harus beli beras ,dan hura-hura harus jalan terus! :p

Lebih dari itu semua gue sedang menantang diri gue, bisa gak sih gue hidup teratur dengan gaji sebagai reward dan punishment yang jelas. Gimana masuk ke iklim perkantoran yang gue mentah-mentahin karena sarat akan kapitalisme yang udah gue maki abis-abisan. Gimana gue men-challenge diri gue buat bikin perubahan di sebuah sistem dari hasil perjalanan gue selama ini. Gimana gue memetakan diri gue di tempat yang jelas bukan comfort-zone gue. Gimana gue pada akhirnya harus menunduk hormat pada kebutuhan dan tuntutan yang dengan cantiknya membungkukkan paksa keegoisan dan idealisme gue.

Gue yakin, di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan. Gue udah mengajukan proposal gue dengan jelas ke Sang Maha Sponsor, dan gue yakin di-approve. Dan… tadaaa...., satu setengah bulan setelah resolusi 2015 gue buat, gue dapet kerja. Setelah proses nyari kerja yang males-malesan dan wawancara yang gue jawab dengan bodoh dan asal, gue keterima!

Membiasakan diri untuk mengerjakan hal yang tidak sesuai dengan kita adalah sebuah hal yang sulit. Apalagi sampai memaksa diri untuk membuat hal tersebut nyaman dengan diri kita. Itu sama halnya seperti ketika lo gak suka sama cowok tapi akhirnya nerima itu cowok karena itu cowok mau bunuh diri. Bawaannya empet terus jadinya! -_-

Lalu pada akhirnya gue harus berperang dengan diri gue sendiri. 

Nah itu lah yang terjadi di gue. Di hari ke dua gue kerja, gue mau resign. Di hari ke delapan, gue galau teriak-teriak ke temen-temen gue kalo gue tersiksa batiniah kerja kantoran, dan itu terus berlangsung sampai hari ini. Tapi, selama dua bulan kerja, banyak terjadi perubahan dalam diri gue. Mau tau apa aja? Mari kita urai bersama satu per satu.
  1. Gue udah bisa bikin alis.
    Sebagai seorang gadis yang tumbuh besar di abad masa kini, entah kenapa membuat alis yang simetris nan rapih dan menarik adalah sebuah kewajiban. Gue pengen banget ngajak duduk bareng orang yang menciptakan konsep cantik yang seperti ini terus gue nasehatin supaya tidak membuat hajat hidup orang banyak susah. Men, tiap pagi, minimal 20 menit waktu gue abis buat ngegambar alis! Dan alis gue akan luntur setelah wudhu shalat zhuhur. Such a useless thingy. Pft...
  2. Gue jadi gak bisa bangun pagi.
    Gue gak tau hal heboh apa yang gue lakuin di kantor. Yang jelas kalo udah di rumah dan tidur, gue udah gak inget apa-apa lagi dan rasanya jam tidur itu selalu kurang. Padahal dulu kalo abis begadang sekalipun, abis shalat shubuh, gue masih kuat buat gak tidur lagi besokannya. Sekarang, jangankan begadang, buat bangun shalat shubuh aja nyokap harus teriak-teriak terus abis itu gue tidur lagi dan bangun di jam mendekati masuk kantor. Iya, dari awal masuk sampe sekarang gue selalu telat.
  3. Bye-bye tidur siang.
    Ini hal yang paling gue rindukan ketika menjadi seorang pengangguran. Bobo siang dan bobo sore. Gak perlu pembahasan soal ini, kalian tau sendiri kan gimana nikmatnya dua hal ini? Nomnomnom~
  4. Berhasil membuka tantangan-tantangan selanjutnya.
    Ketika baru awal masuk gue berusaha buat suka sama kerjaan, tapi hasilnya nihil karena gue emang gak cocok. Gue menganut sistem asal kelar dan kalo udah kelar gue minta nambah dan malah lebih banyak yang gak gue selesaiin. Gue membenarkan hal-hal itu terjadi karena, yaa...bukan passion

    Berhubung gue orang yang LOC-nya internal banget, jadinya semua hal gue refleksi ke diri gue lagi. Gue selalu menyalahkan diri gue yang susah beradaptasi untuk hal yang gak gue suka. Gue jadi suka nanya apa sih sebenernya yang gue mau, apa sih yang harusnya gue lakuin, gue harusnya tuh ngapain sih di sini, gue kok buang-buang waktu banget ngerjain yang gak gue suka, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang senantiasa menemani hari-hari kegalauan gue.

    Lalu pada akhirnya gue belajar lebih jauh untuk mengeksplor diri gue. Ternyata gue emang punya passion di HR. Pekerjaan yang berusaha gue sayangi ini ribet, makanya gue gak suka. Untuk itulah gue di situ, membuat sesuatunya lebih mudah. Pekerjaan gue tidak memenuhi SOP seperti yang bangku kuliah ajarkan. Maka dari itu gue ada di situ, untuk menegakkan standar-standar itu. 
    Perusahaan menggaji kecil dan tidak sesuai UMR, hati gue capek ngeliat ketikadilan jelas-jelas di depan mata gue. Untuk itu gue ada. Memastikan orang-orang itu mendapatkan sesuai dengan haknya.
    Ke depannya gue jadi kayak jelas melihat pemetaan karir gue. Gue pengen berkarir di HR sampai memahami seluk beluk masalah yang terjadi sampai di level paling bawah. Ke depannya gue mau belajar di level menengah, lalu sampai di level yang paling atas. Ketika gue udah punya semua ilmunya, gue pengen nerusin buat jadi konsultan yang berpengalaman.

    Kemudian gue membuat tantangan baru. Apakah gue bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan gue tadi? Gue yakin gue bisa. Gak usah ngomong soal gaji. Cukup aja udah Alhamdulillah. Ini bukan lagi soal kerja dan bayar cicilan motor atau beli beras. Lebih dari itu, gue bekerja di sini adalah untuk kerja itu sendiri.
    I wish I can prove my words!


Kembali pada topik yang diangkat di paragraf pertama.

Soal kemunduran. Yep, saya menemukan diri saya di siang-siang bolong yang penuh tekanan dari sana-sini. Di usia yang ke dua puluh tiga tahun ini akhirnya gue menemukan apa keinginan gue. Mungkin gue bisa resign sekarang terus lanjut kerja yang sesuai passion gue, tapi setelah gue telusuri, gue ternyata tidak mau. 

Siapa sih yang gak mau kerja sesuai passion dengan gaji yang besar? Semua pasti mau. Tapi sekarang gue sedang ingin menyelesaikan apa yang gue mulai. Gue mau mengondisikan diri gue di tempat yang sangat gue usahakan untuk gue suka. Gue mau membuat perubahan di sebuah sistem yang sudah berjalan. Gue ingin membuktikan bahwa perusahaan meng-hire gue karena gue punya kelebihan di bidang di mana gue di gaji--rekrutmen. Bukan karena gue harus melaksanakan pekerjaan dengan benar, tapi lebih ke bagaimana gue melakukan hal-hal benar yang seharusnya dilaksanakan.

Soal post-power syndrome. Gue ngerasa gue lebih berjaya ketika dahulu kala. Gue lebih berani, lebih nekat, lebih berhasil melakukan banyak pencampaian dalam bentuk real. Tapi sekarang apa? Untuk bangun pagi aja susehnye minta ampun. Nah sekarang mungkin waktunya gue buat mengembalikan masa-masa kejayaan gue itu, tapi dalam scope lain. Dulu gue masih egois, sekarang juga sih hehehe. Gue gak peduli orang lain mau gimana, yang jelas keinginan gue harus tercapai. Tapi sekarang gak bisa gitu. Gue harus menyesuaikan kapasitas gue untuk banyak kepala. Contoh kecil hal yang ingin gue lakukan; gue mau perusahaan memakai sistem rekrutmen dan development yang akan gue buat. Anggap aja ini kegilaan selanjutnya yang harus gue kerjakan dan harus selesai sebelum gue resign nanti. :p

Waktu gue minta sama Allah mau kerja terus dikasih kemudahan, gue yakin Dia gak main-main. Semua pasti ada hikmahnya. Gue yakin banget. Dan sekarang, tugas gue adalah bergerak. Manakah yang lebih indah pada akhirnya nanti? Yang mau untuk ditempa atau bermanja diri? Mungkin materi bisa dijadikan ukuran kesuksesan dari seseorang, tapi buat gue, kemenangan ketika bisa menyelesaikan target-target yang dibuat, yang sifatnya lebih personal, itu bahagianya luar biasa. Karena bahagia yang sederhana sudah terlalu mainstream!



Btw, apakah tujuan hidup gue di HR ke depannya yang gue buat di tulisan ini karena lingkungan yang menghamili pemikiran gue supaya mikir ke sana? Hmmm.....


October 24, 2014

Soal Menulis

Beberapa tulisan berhak berlanjut dan selebihnya bisa dibuang ke tong sampah. Dan sepertinya tulisan gue masuk ke golongan yang ke dua. Jenis tulisan yang bisa dibaca hanya di paragraf awal, dan kemudian, entah kenapa gue yakin pembacanya pasti mual dan langsung nutup tulisan gue, bahkan sebelum sampai di bagian tengah. Gak ngerti di bagian mananya yang salah. Tapi, yaa… gue ngerasa  gak pernah bener dengan hampir semua tulisan gue.

Gue mungkin tipe orang yang abis nulis terus pas besoknya baca ulang tulisan gue lagi malah enek sendiri. Terus mikir, “Ya Allah, ini apa sih yang gue tulis?” Dan untuk ke sekian kalinya gue sering banget mikir kayak gitu. Bukan tulisan yang agak panjang aja yang gue pajang di blog, tulisan-tulisan irit gue di Timeline Twitter gue juga sering mendapat perlakuan yang sama dari si empunya akun. Di blog, lebih banyak tulisan yang ada di draft dari pada di publish, di Twitter juga gitu, bahkan lebih banyak lagi yang dihapus. Lagi-lagi gak ngerti kenapa, tapi gue sering ngerasa jijik gitu sama tulisan gue. Hem.

Tes minat dan bakat gue waktu kuliah menunjukkan kalo gue ini punya minat dan bakat di bidang literasi. Setelah gue pikir-pikir, mungkin literasi bagian membaca dan berimajinasi dengan kata-kata. Bagian ngoreksi yang typo dan struktur juga agak jago, apalagi kalo lagi stalking terus nganalisa mana yang bohong, mana yang pencitraan. Atau nyanyi-nyanyi gak jelas sambil liat azlyric.com untuk memastikan kata-kata yang gue nyanyiin bener mungkin termasuk ke dalam literasi juga? Yang jelas kayaknya sih bukan di bagian menulis. Gue payah di bidang itu.

Mungkin mindset di guenya yang udah tercipta sedemikian rupa kalo menulis itu pekerjaan yang sulit dan menyebalkan. Mungkin. Gue lebih milih buat ngomong secara verbal dan non verbal, maksudnya, perbincangan di dalam kepala gitu, lho.  Ada banyak banget ide yang pengen gue tulis. Banyaaaaakkkkkk banget……... Ini tuh kayak isi kepala gue balap-balapan sama jari gue. Jadi ketika ditulis, idenya udah kemana-mana, tapi jari gue masih di situ aja, masih ngurusin huruf, sementara ceritanya udah lari-larian kemana tau. Terus semuanya akhirnya mentah terus berhenti, terus stuck, terus gak tau lg mau nulis apa,

Gue pengen jadi generasi yang terus menulis dan membaca. Gue pengen berada di deretan orang-orang intelek yang gemar menulis dan membaca. Gue pengen tetep nulis, tapi selalu ngerasa kesulitan yang sumbernya di dalam kepala dan entah gimana ceritanya gue selalu ngerasa gak punya keahlian buat yang satu itu. Coba aja ada alat yang bisa nulis otomatis apa yang kita omongin kaya di HER gitu. Mungkin menulis bisa jadi lebih mudah.

So, mungkin kalian para pembaca gak sempet baca sampai bawah apa yang gue tulis deh. Hahaha!


A Broken Petrichor

Di luar hujan turun mau-tidak-mau. Sebentar mendung, kemudian deras, tidak lama kemudian berhenti, dan kembali terik, lalu gerimis yang tidak berkesudahan berlangsung sampai malam. Biasanya Lika akan menepi ke jendela kamarnya yang terletak di lantai dua, menggulung lengan kemejanya yang kebesaran sampai siku sambil mengecap cokelat panas perlahan-lahan. Lika benci hujan dan memilih untuk menontonnya saja sambil membaca pesan apa yang turut disampaikan lewat bulir-bulirnya.

September 23, 2014

Perihal Buku dan Tetek Bengek Ketika Meminjamkannya

Pada akhirnya gue bisa menuliskan di CV kalo gue punya hobi membaca. Iya, gue suka baca buku. Beberapa tahun yang lalu gue memutuskan untuk lebih sering membeli buku daripada meminjamnya dari teman. Pertama, beberapa buku itu pengen rasanya gue baca berkali-kali dan kalo terus-terusan minjam gak enak sama orang yang punya, takut ngerepotin. Kedua, gue mau buat perpustakaan pribadi, gue suka ngeliat buku berjejer rapi di rak gitu dan mungkin sambilan buat observasi diri juga kalo gue itu lebih suka genre buku yang mana.

Makin lama hasrat membaca gue pun kian bertambah. Gue gak pernah bisa menahan diri buat gak beli buku kalo udah di pameran buku atau di toko buku. Karena gue masih belum bisa menghasilkan uang sendiri dalam jumlah yang banyak, hasrat gue buat punya buku baru itu kayak ke-block dan tidak tersalurkan dengan  baik. Sampai pada akhirnya ketika jaman awal kuliah beberapa teman memperkenalkan gue dengan Kwitang. Lo tau rasanya? Surga, men! Berdiri di antara buku-buku yang sebegitu banyaknya dan murah-murah pula. Gue kayak menemukan adanya benang merah di antara semua ini. Jadilah gue beberapa kali (hampir sering) beli buku-buku di sana. Gak lama setelah itu pasar Blok M Square bagian bawah juga membuka pintu surga yang lain. Jadilah akhirnya gue suka menyisihkan uang yang sedikit-sedikit buat mengunjungi surga-surga itu dan membeli buku di sana. Perihal itu buku bajakkan, gue gak peduli. Yang penting gue bisa baca buku yang gue mau.

Sampai pada akhirnya seorang teman berkata, "Ketua  komunitas menulis kok beli bukunya bajakkan? Gak menghargai karya orang lain banget!" Jeng jeng. Gue merasa hina.

Selama ini gue gak pernah beli barang-barang palsu atau KW super atau sejenisnya. Dan selama itu pula gue gak sadar kalo beli buku bajakkan itu sangat-sangat bertentangan dengan diri gue. Oke, gue menyerah. No more buku bajakkan!!!

Semenjak itu akhirnya gue berusaha lebih giat lagi ngumpulin dan menyisihkan uang. Minimal kalo lagi ngunjungin toko buku atau pameran buku ada lah buku yang kebeli. Kadang-kadang malah sampe menghabiskan uang di dompet dan rela ngirit-ngirit setelahnya. Mungkin semacam balas dendam gitu kali ya, nahan-nahan buat beli buku terus sekalinya ada kesempatan langsung gak kekontrol. Bad habbit dan jangan ditiru!

Seiring berjalannya waktu, Alhamdulillah gue punya beberapa buku dan udah punya mini library di kamar. Gue suka banget ngeliat jejeran-jejeran buku itu, buka sampul plastik buku baru dan ngerasain betapa halusnya cover depan dan lembaran-lembaran setelahnya. ngerasa bahagia gimana gitu setelahnya. Betapa bahagia versi gue itu sangat sederhana (re:murahan -_-).

Karena gue ini orangnya suka berbagi, gue suka cerita ke orang-orang tentang buku apa yang udah gue baca. Waktu nyeritainnya itu pun gue suka heboh dan kadang berlebihan. Jadinya mereka tertarik dan berniat untuk minjem buku yang gue baca. Pada akhirnya gue merelakan buku-buku ini berpindah tangan dengan harapan buku itu dibaca dan teman gue itu mendapat pengalaman berbeda dari apa yang dia baca. Nah di sini keselnya. Buku yang dipinjem itu gak pernah balik kalo gak ditagih.

Dulu pernah ada temen yang minjem empat buku Dan Brown gue yang tebel-tebel itu. Udah tiga tahun gak dibalikkin, gue udah minta juga gak direspon bagus. Akhirnya gue inisiatif sendiri buat ngambil langsung di rumahnya. Gue udah bilang dari siang mau main ke rumahnya buat ngambil buku. Rumah temen gue itu jauh, dan pas sampe di sana dia bilang dia gak bisa nemuin gue di rumahnya. Sampe akhirnya beberapa hari kemudian gue berhasil janjian dan nyamperin dia di kampusnya buat ngambil buku-buku itu. Buku gue cuma balik tiga dan dalam kondisi yang menyedihkan. Kertasnya  bergelombang karena kena air dan lecek di sana-sini. Apa yang gue bisa lakukan? Cuma menarik napas berat dan mengembuskannya. *sigh*

Di lain cerita ada seorang teman yang meminjam banyak buku. Dia lupa apa saja yang sudah dia pinjam, dan pas gue minta dia lupa naro nya dimana, dan meminta gue untuk mengikhlaskannya. Lalu pernah ada teman yang meminjam buku gue dan buku itu dia bawa kemana-mana. Di hari ke tiga bentuknya udah lusuh dan gak jelas. Karena gue bete liat buku gue jadi jelek, gue nyuruh dia bayarin itu buku. Di cerita lain, gue pernah maketin buku buat dibaca seorang teman. Bukunya udah nyampe di TKP, dibaca enggak, ilang iya. Di banyak cerita yang lain, buku gue berpindah dari satu orang ke orang lain dan gak pernah kembali ke rak nya semula.

Ya Allah, salah apa sih buku-buku saya?

Oke mungkin gue salah karena sering teledor ngasih ke sembarang orang dan lupa siapa yang udah dipinjemin sampai akhirnya buku-buku itu hilang. Tapi kemudian pertanyaan gue selanjutnya, dimanakah rasa penghargaan mereka terhadap buku-buku itu? Oh digeneralisasi aja, dimanakah rasa menghargai dan menjaga barang kepemilikan orang lain yang sudah diamanahkan?

Gue pernah minjem buku temen, dan gak sengaja kebawa tidur dan kelipet sampul depannya. Bangun-bangun ngeliat buku kelipet rasa bersalah gue udah kayak apaan tau. Siangnya gue langsung beli buku baru buat gantiin buku temen gue itu.

Iya sih kita emang gak bisa minta orang berbuat sama kayak kita. Tapi ya masa gak bisa minimal mendekati itu? Ini bukan soal bukunya sih mungkin, tapi gue ngerasa kecewa aja. Itu sebuah hal yang umum banget, lho. Menjaga amanah. Lo udah dikasih amanah buat ngejaga suatu barang. Pemiliknya udah ngejaga semaksimal mungkin, ketika barang itu berpindah tangan ya mestinya lo juga melakukan hal yang sama dengan apa yang pemiliknya lakukan terhadap barang itu. Iya gue pelupa dan kurang seksama, tapi kan hak gue juga pada akhirnya untuk mendapatkan barang-barang gue lagi dan kewajibannya si peminjam untuk menjaga dan mengembalikannya.

Akhir-akhir ini gue makanya berubah menjadi orang pelit. Gue akan menginterogasi orang yang mau minjam buku gue dan buat perjanjian kapan balikinnya. Dan malahan gue udah mulai kapok buat meminjamkan buku ke orang. Iya, hampir kapok.

Gue seneng kok kalo minjemin buku ke orang. Seneng banget malahan. Soalnya abis itu gue bisa sharing dan tukar pikiran. Dan gue suka banget buku-buku itu gak cuma mejeng di kamar tapi juga bisa bermanfaat buat orang lain. Tapi kemudian gue akan ngerasa kecewa kalo buku itu gak dibaca dan gak dijaga dengan baik, apalagi sampe gak balik.

Btw, gue gak akan pernah jera buat meminjamkan buku ke orang lain. Tapi, ya, mungkin akan menjadi lebih selektif (re: pelit). Dari semua ini gue belajar, bahwa dengan berani meminjamkan ke orang lain berarti berani juga untuk mengikhlaskan. Tapi lagi-lagi gue percaya kalo kepercayaan itu adalah suatu hal yang mahal. Dan menjaga kepercayaan itu gak ada apa-apanya kalo dibandingin sama harga buku itu sendiri. 


Ciao!



*tulisan ini dibuat di tengah kekesalan saya karena lupa meminjamkan Angels and Demons kepada siapa dan sama sekali tidak dapat mengingat rentetan kejadiannya.