August 23, 2014

Persami di Rest Area Papandayan

Papandayan. Gunung dengan ketinggian 2.622 mdpl yang terletak di Garut itu menjadi pilihan ‘liburan’ untuk kami; aku, Adit, Sri, Wanda, Anita, dan Aa ‘Rifqi’ dalam rangka 17-an tahun ini. Sebenernya agak bingung waktu menyusun itinerary, soalnya kita semua belum pernah duduk di satu meja dan ngomongin ‘ini mau naik gunungnya gimana?’ Tapi, show must go on! Jadilah dengan modal sotoy perjalanan ini dapat terlaksana dan Jumat malam kami bertolak dari Jakarta.

Rencana awal naik bis gak jadi karena satu dan lain hal. Akhirnya Adit memutuskan untuk membawa mobil. Aku ke rumah Adit buat mengambil mobil lalu menjemput Anita dan Aa di Bintaro yang sudah menunggu selama berjam-jam dalam kondisi ngegembel (re: ngemper di pinggir jalan, ngegembel dalam arti sebenarnya).  Setelah itu kita menjemput Wanda di daerah Fatmawati yang ngaku kalo dia abis buka mobil orang dan mergokin kalau penghuni di dalamnya lagi ciuman. Gak sopan banget si Wanda ini. Ckckck. Kita terus menjemput Sri di rumahnya di daerah Bekasi yang ujungnya gak jelas di mana. Ketika sampai di rumahnya, muka dia bersinar cerah. Seolah-seolah dia baru aja terbebas dari penjara. Setelah diceramahin sama kakak-kakaknya Sri, jam 11 tepat kita berangkat. Here we go…

Emang dasar anak kota yang cuma modal ‘pengen naik gunung’, baru keluar komplek rumah Sri kita udah mulai nanya-nanya kalo ke Garut caranya gimana. Di Bekasi sendiri pun kita sempet nyasar karena salah baca marka jalan. Akhirnya setelah tanya sana-sini, kami berhasil masuk tol yang tepat untuk satu tujuan: Garut. 

Selama perjalanan ini kami hampir memasuki semua rest area yang ada di tol. Entah itu untuk pipis, ngelurusin kaki, atau nanya-nanya jalan yang benar. Kedudukan Adit sebagai supir di jalan sempat pula digantikan oleh Wanda karena Adit mengantuk. Selama Wanda memegang kendali mobil, dia berhasil membuat kami semua melek dan mengingat Allah dengan ber-istighfar lebih banyak. Alhamdulillah, pada pukul 5 pagi kita sampai di daerah Garut dengan selamat dan menyempatkan shalat shubuh di masjid terdekat lalu kemudian re-packing.

Pukul setengah 7 pagi kami semua sampai di gapura menuju Papandayan. Banyak rombongan pendaki yang terlihat sedang istirahat dan carter-carter mobil pick-up. Kita sendiri masih optimis dapat mencapai pos dengan mobil Kuda Adit. Setelah jalan sekitar 15 menit, jalanan menuju pos mulai rusak, ke sananya jalanan malah tambah rusak lagi. Beberapa kali bemper mobil beradu dengan  kerikil batu-batu jalan yang besar-besar dan lubang yang cukup dalam di sana-sini. Tidak hanya itu, mobil-mobil pick up yang arogan beberapa kali menyalip mobil, entah itu dari belakang atau dari depan. Karena jalanan yang tidak memungkinkan dan ketakutan dari kami akan kondisi yang tidak diinginkan terjadi, akhirnya kami memutuskan untuk naik ojeg (25.000 per motor) agar bisa sampai di pos dan menitipkan mobil Adit di rumah warga terdekat.

Welcome to Papandayan

Setelah melewati jalan yang sangat tidak memanusiakan pantat kami, akhirnya pada jam 8 ojeg yang kami tumpangi berhasil mengantarkan kami ke pos pendaftaran dengan utuh. Di pos pendaftaran atau yang biasa disebut Camp David, aku mendaftarkan kelompok dengan membayar 5.000 rupiah untuk tiap kepala. Setelah itu kami sarapan, stretching asal-asalan dan kemudian berdoa. Perjalanan pun dimulai.

Trek pertama papandayan kental sekali dengan jalanan menanjak dengan batu-batu kecil dan besar serta bau belerang. Di beberapa titik kita bisa melihat kawah yang masih aktif dan bau belerang yang sangat menyengat. Anita mulai kewalahan di beberapa langkah pertama. Maklum dia pendaki pemula dan daypack-nya sangat tidak nyaman. Aku sendiri agak memburu langkah kakiku lebih cepat karena ingin cepat-cepat sampai di tempat yang ada pohonnya. Bau belerang sangat menyulitkanku untuk bernafas.



Aku dan Sri sampai duluan di tempat peristirahatan yang cukup teduh. Menyusul agak lebih lama; Wanda, Aa, Anita dan kemudian Adit yang sudah membawa dua tas. Miliknya dan daypack-nya Anita. Sampai hari ini aku masih kagum dengan pendaki yang bersedia membantu membawakan tas temannya. Seseorang yang mau menanggung beban yang seharusnya tidak ia tanggung. Keren, brok!

Setelah makan Inaco, minum, selfie, dan membagi rata isi tas Anita, akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Trek memasuki hutan dan mulai menurun.

Rule number 1: Kalau ada turunan di gunung, berarti ada? Tanjakkan!

Yak. Kami mulai menuruni jalanan, kemudian melewati sungai kecil, lalu dihadirkan dengan tanjakkan yang cukup panjang. Treknya tidak terlalu lebar dengan kanan-kiri pohon yang cukup rapat. Nafas kami sangat boros di sini saudara-saudara. Di trek ini kami bergantian istirahat dan duduk setiap ada lapak kosong di jalur. Kami mulai mengutuki diri karena sudah tua dan sangat malas berolahraga. Tidak lama kemudian kami keluar dari hutan dan melalui tanjakkan panjang yang baru dengan sinar matahari yang langsung menyengat dan menyoroti setiap langkah. Percayalah, jika kalian ke sini ketika musim kemarau, kalian akan ragu untuk beristirahat dan berusaha untuk jalan secepat mungkin. Huah. Panasnya itu lhooo... ajib!

Beberapa saat kemudian, aku sampai di pos 2 untuk registrasi ulang. Waktu itu baru aku dan Sri yang sampai. Kami mencari-cari spot paling enak untuk istirahat. Sampai akhirnya aku menemukan tempat dengan rumput-rumput tinggi yang tebal. Entah kenapa jiwa Syahrini memasuki ragaku. Aku melepas carrier dan langsung guling-gulingan di atas rumput. I feel free, gaessss. I feel free……… Panas matahari dan tanjakkan yang aku lewati tadi tidak ada artinya lagi jika dibandingkan dengan nyamannya rumput-rumput itu.

Setelah semua personel kumpul dan mendengar dari pendaki lain kalau Camp Salada sudah penuh, entah bagaimana kami memutuskan untuk buka camp di pos 2 dan bukan di Camp Salada, padahal Camp Salada tinggal jalan 20 menit lagi. Memang pemalas dan mudah menyerah sekali kami ini. Ckckck. Kami adalah rombongan pendaki pertama yang membuka tenda di Pos 2 dan nantinya menjadi rombongan terakhir yang membongkar camp di Pos 2. 

Kami pun mulai untuk menata hidup kami di gunung. Urusan tenda dikerjakan oleh kaum pria. Sri mulai mengeluarkan logistik dan menata barang-barang, sementara itu aku dan Anita mulai untuk memasak. Anita mulai memotong-motong sayur dan aku mencuci beras. Aku begitu terpukau dengan kompor unik bentuk bunga matahari mekar yang dibawa Wanda sampai akhirnya kompor itu zonk. Tidak dapat digunakan. Jeng-jeng. Wajah kami menjadi panik. Gak kebayang gimana caranya bisa hidup di gunung tanpa ada kompor (lebay mode: on). Kami menggunakan segala cara yang kami bisa untuk membuat kompor menyala. Aku menyuruh Wanda meniup-niup lubang gas, takut-takut kalau salurannya tersumbat. Wanda mencari solusi ke pos untuk meminta perbaikan dan hasilnya nihil. Adit dan Sri mencari pinjaman kompor, tapi karena mereka berdua cupu dalam hal sosped, hasilnya juga nihil. Sementara itu Aa dan Neng Anita masih terus memotong sosis dan sayur-sayuran.

Menurut Wanda, kompor harus dibongkar. Ia yakin salurannya tersumbat. Satu-satunya benda yang aku tahu yang dapat mengubah nasib kami adalah Victorinox. Akhirnya aku berhasil menemui seorang pendaki yang kemudian menjadi malaikat kami. Aku meminjam Victorinox miliknya, tapi ia tidak memberikannya namun meminta kompor kami. Belakangan aku tau kenapa ia tidak mau memberikannya. Merk pisau lipat miliknya bukan Victorinox melainkan Leatherman yang harganya 1,8 jt. Hmm… lebih mahal dari uang wisuda plus jait kebaya. Mas-mas ini kemudian membongkar kompor kami, ditiup-tiup, menyulapnya, dan kemudia menyala. Waaaa…. Tidak bisa dibayangkan betapa senangnya kami saat itu. Akhirnya kami tidak jadi makan nungget mentah. Di akhir pertemuan ia memperkenalkan namanya sebagai Limar Pendaki Gunung. Terima kasih, Mas Limar.

Pelajaran pertama di hari pertama: cek semua kondisi dan kesehatan perlengkapan camping sebelum memulai perjalanan. Kita gak pernah tau apa yang bakalan terjadi di atas gunung.

Kami lalu kembali ke tenda untuk melanjutkan masak dan kemudian makan. Ada kejadian lucu saat membuat makan siang. Anita meminta Sri untuk menggeprek bawang putih. Dengan sekuat tenaga Sri menggeprek bawang putih dan menjadikan piring plastik sebagai alasnya. Bawang putih tidak hancur, piring plastiknya berantakan. Hahaha!

Makan siang dan cuci-cuci selesai. Kami berencana untuk jalan-jalan sore dan melihat sunset dari undakan yang tidak jauh dari camp. Untuk itu, kami memutuskan tidur siang terlebih dahulu. See? Hidup kami di gunung saat itu sangat menyenangkan! Habis makan lanjut bobo siang.

Setelah bangun dari tidur siang sampai sore, kami bermalas-malas ria di depan tenda. Karena kami adalah pemalas yang cepat lelah dan menyerah, rencana jalan-jalan mencari sunset batal. Ha ha ha. Suasana di sekitar camp menjadi lebih ramai, bahkan menjadi padat. Fyi, di Pos 2 ini kalian bisa menemukan gubukan yang bisa dijadikan mushalla, toilet dua bilik, warung (dalam arti sebenarnya), dan keran air yang menyala dimana-mana. I would like to say: Ini adalah Bumi Perkemahan Cibubur dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi.

Malam di gunung dengan taburan bintang adalah keindahan tangan Tuhan yang tidak dapat terlukis bahkan oleh maestro terbaik manapun. Seperti malam-malam di gunung lainnya, malam di Papandayan saat itu adalah malam yang membawa kenangan mendesak keluar, meminta untuk dikenang kembali. Aku merindukan orang-orang yang aku harapkan berjalan bersamaku. Aku merenungkan perjalanan yang aku lalui, dan melucuti satu-satu ego yang sering aku repress. Betapa pemandangan sekelibat yang aku lihat saat itu bisa menghadirkan drama panjang di dalam kepala selama beberapa waktu. Aku mencintaimu, Ya Allah. Pikirku saat melihat kabut mulai memeluk bintang satu per satu.

Naik gunung tanpa romantisme adalah hambar. Di perjalanan kali ini Aa dan Anita adalah bintangnya. Semenjak menapaki trek sampai turun, mereka berhasil membuat kami semua iri sekaligus enek. Malam itu sampai esok harinya Aa dan Anita terus-terusan mengulang percakapan yang sama. “A, sapu tangan neng mana?”, “A, liat kupluk neng gak?”, “Neng, senter Aa mana?”, “Neng, liat sarung tangan Aa gak?”. Sementara itu, sepanjang hari sampai keesokan harinya Adit terus-terusan ngomel, apalagi kalau Sri sudah melakukan kesalahan dan Anita udah mulai engap.

Kami lalu menata tenda lebih baik dan mulai memasak makan malam mewah a la anak gunung pun. Pertama-tama kami membuat agar-agar. Setelah itu aku dan Anita memasak bakso super enak. Kemudian kami menambahkan mi rebus untuk lauk tambahan. Menu selanjutnya kami memasak krim sup ayam. Selama di gunung, Aa adalah spesialis cuci piring dan mengambil air. Ia dengan lihainya menyeka bekas minyak dan sisa-sisa makanan di nesting dengan rumput-rumput di sekitar. Inget! Gak boleh pake sabun pencuci piring ya, guys.

Setelah kenyang, kami memutuskan untuk masuk tenda. Kami memilih untuk berdesak-desakkan dan hanya memakai satu tenda saja agar lebih hangat. Tenda satunya lagi kami gunakan untuk menaruh barang-barang. Keributan lalu berlanjut ketika mencari posisi yang enak di dalam tenda. Entah berapa kali pindah-pindah posisi sampai akhirnya menemukan tempat yang nyaman untuk tidur.

Wanda membuka percakapan dan mengajak kami untuk sharing karena di antara kami belum ada yang berniat tidur. Pertama-tama Aa mulai percakapan dengan ucapan terima kasih. Terima kasih untuk.... terima kasih buat….. terima kasih juga…. Ya begitulah pokoknya. Sharing kemudian disambung oleh Anita, Sri, Aku, Wanda, dan Adit yang kemudian curhat. Di sini kita mulai pembicaraan agak dewasa dengan membahas masalahnya Adit. Kalau bisa disimpulkan, pembicaraan malam itu seputar visi dan misi kehidupan. Intinya kita semua harus punya rencana, tujuan, tau apa yang kita mau, dan yang paling penting kita harus kenal dulu siapa kita. Masalahnya adalah ketika kemauan kita berbenturan dengan maunya orang lain. Hal itu kemudian harus disikapi dengan cara yang paling dewasa menurut masing-masing kita. Dealing with yourself first, before dealing with others. Mungkin kurang lebih gitu.

Jam mulai menunjukkan pukul sebelas malam. Satu per satu dari kami mulai lelah dan memutuskan untuk tidur, tapi tidak dengan mulutnya Wanda. Kita semua diajak ngobrol dan menanggapi apa yang ia bicarakan. Bahkan ketika tidak ada yang menanggapinya berbicara, ia terus saja mengoceh. Karena tidak tahan, akhirnya Sri meminta tukar posisi tidur denganku. Malam semakin larut dan pembicaraan kami semakin kemana-mana. Anita mengeluh kepada Aa bahwa ia tidak bisa tidur karena perutnya bergejolak dan mau BAB. Sri juga keluar tenda untuk pipis, kemudian diikuti Adit yang juga ingin pipis. Mereka berempat keluar tenda sementara aku dan Wanda mengobrol di dalam tenda. Balik dari toilet, mereka berempat membawa cerita lucu. Kejadian Anita BAB di toilet mengeluarkan ritme dan aroma yang tidak biasa dan mungkin akan menjadi unforgettable moment. LOL!

Kami semua bangun pukul setengah 5 pagi dan berencana untuk summit. Jam setengah 6 kami selesai sarapan dengan sandwich isi telur dan shalat shubuh. Lagi-lagi, rencana kami untuk mengejar sunrise gagal. Matahari sudah terlanjur menerangi kami yang masih bergerumul di tenda, padahal semalam habis membuat visi-misi. Apalah arti rencana untuk para pembuat wacana. Pft.

di depan tenda sebelum summit
Jam setengah 8 kami bersiap-siap dengan perlengkapan untuk summit. Setengah jam berjalan, kami sampai di Camp Salada. Camp Salada penuh sekali seperti Camp waktu Piala Dunia di Harpot ke 5. Benar-benar penuh seperti pasar malam. Ada untungnya juga kami menjadi pemalas dan membuka camp di bawah.

Camp Salada
Pelajaran ke dua: Jangan naik gunung pas lagi 17 Agustus. Ramenya gak santai.

Menurut informasi yang didapat, untuk mencapai puncak ada dua jalur. Jalur yang agak curam tapi lebih cepat mencapai puncak atau jalur yang santai tapi memakan waktu yang lebih lama, melewati Hutan Mati. Kami memilih jalur yang pertama. Setelah melewati Camp Salada, kami melewati padang Edelweis kecil dan berputar-putar di sana seperti terjebak dalam labirin selama 15 menit sebelum akhirnya menemukan jalur yang benar. Jalur kemudian mengerucut menjadi satu trek yang sempit dengan undakan yang cukup tinggi untuk kaki seukuranku, langkah-langkah yang mempertemukan lutut dan dagu. Jalur ini dipenuhi dahan dan ranting pohon-pohon tinggi di kanan-kiri. Kami perlu memegang ranting atau mengangkat tubuh kami dengan berpegangan pada dahan-dahan pohon. Jalur ini entah kenapa sangat menyenangkan untukku, tapi tidak untuk Anita. Ia berkali-kali mengatakan, “bentar dulu, Dit, gue engap.” 

Sinar matahari tidak masuk dan menjadikan udara hangat. Ketika berbalik badan, aku melihat Cikuray dan hamparan langit serta awan. Di tengah perjalanan, kami mendengar Indonesia Raya dikumandangkan. Kami ikut menyanyikannya dan ‘upacara’ sambil beristirahat. Satu setengah jam kemudian kami sampai di Padang Edelweis yang luas dan sangat indah. Kami menyempatkan diri untuk berfoto-foto dan membuat persembahan kecil untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada Yayasan AIDS Indonesia (YAI) berhubung kami semua adalah relawan yang sedang melakukan "KIE" di sana.


Happy Birthday Yayasan AIDS Indonesia!

Puas dengan padang edelweis yang luas dan indah, perjalanan kemudian dilanjutkan dengan memasuki hutan. Setengah jam kemudian kami sampai di Hutan Mati. For God Shake, hutan yang sudah kena terpaan lahar saja bisa indah begini jadinya. Aku, Wanda, dan Sri berlari memegang bendera (drama banget) menyongsong awan di depan kami. Kami mengibar-ngibarkan bendera merah putih dan menyelami keindahan Tuhan satu kali lagi. Subhanallah! Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan?!


Hutan Mati
Setelah selesai mengambil foto sebanyak-banyaknya kami memutuskan untuk turun. Di perjalanan turun aku banyak berpapasan dengan para pendaki yang kebanyakan berasal dari Jabodetabek. Dari penampilannya mereka terlihat seperti anak-anak kelas ekonomi ke atas yang ingin mencari pemandangan lain selain di kota dan mengabaikan SOP ketika naik gunung. Running shoes merk Nike, Adidas, dll menghiasi jalur. Mba-mba dengan tongsis yang selalu eksis di tangan tapi malah pakai sandal crocs. Kaki-kaki dengan celana jeans yang ketat dan berteriak-teriak ketika kakinya menyentuh air atau lumpur. Mungkin aku yang iri dengan penampilan mereka sehingga jadinya menulis paragraf nyinyir ini. Mungkin. Tapi, ayolah. Ini gunung. Keamanaan dan keselamatan tetap nomer satu.

Jam setengah 12 kami sudah kembali sampai kembali di camp. Setelah makan siang selesai dan shalat, kami memutuskan untuk packing dan bongkar tenda. Siang itu matahari lagi-lagi bersinar terik dan meninabobokan keinginanku untuk pulang. Malas rasanya menyusuri jalur dan berpanas-panasan kembali.

Sebelum pulang, aku dan Sri menyempatkan diri untuk buang air kecil dan kemudian menemani Anita untuk BAB. Lalu kejadian lucu berikutnya terjadi. Aku berdiri berjaga-jaga di depan bilik toilet dan kemudian, KABOOOM! Waaaa…. aku ditembak Anita dari dalam toilet. If you know what I mean. Bahahahak!

Pukul 3 kami turun dan mulai menapaki trek lagi. Naik-turun-naik-turun. Buka-tutup-buka-tutup-payung. Dan akhirnya sejam kemudian sampai di mess. Huh hah huh hah. Akhirnya sampai juga. Alhamdulillah. 

Kami lalu mencari-cari kendaraan yang dapat kami tumpangi untuk mencapai mobil Adit. Semua mobil pick up yang Wanda cari sudah penuh. Tidak lama kemudian aku menemukan abang ojeg yang mengantarkan kami naik kemarin. Kami pun lalu turun dengan naik ojeg (yang tidak memanusiakan pantat kami). Kemudian kami mengambil mobil Adit yang dititipkan di rumah warga. Jakartaaaaa, kami kembali.....

Dalam perjalanan pulang, Anita dan Aa mentraktir kami makan malam dalam rangka Anniversary mereka yang ke dua tahun. Kami pun makan malam enak di seafood pinggir jalan. Selamat dua tahun Aa-Anita. Semoga nikah dan langgeng!

Adit kemudian mengantarkan kami semua satu per satu sampai rumah masing-masing. Aku sendiri sampai di rumah pukul setengah 3 pagi.

Bye, Papandayan. Terima kasih untuk dua hari-nya yang menyenangkan, geng Persami!

Adit
Wanda
Sri

Aa 'Rifqi'
Anita
Aku
   
Geng Persami Papandayan



April 13, 2014

Ja(karta)lanan Movie

Oke, pertama-pertama mari kita panjatkan puji dan syukur yang sebanyak-banyaknya kepada Allah SWT karena telah memberikan kesempatan buat gue nonton @JalananMovie hari ini. Ditambah lagi, Sang Maha Yang Selalu Kasihan Kepada Hambanya memberikan seorang teman untuk menemani gue nonton. Ya gak krik-krik banget lah jadinya.

Minggu, 13 April 2014 pukul 14.45 gue nonton Jalanan. Setiap adegan yang dimainin di situ rasanya dekettt banget sama keseharian gue yang suka naik 213. Iya, gue suka naik bis.

Banyak orang yang ‘gerah’ dengan kondisi angkutan umum, apalagi bis-bis kota seperti PPD, Metro Mini, Kopaja, dan sejenisnya. Namun, itu semua gak berlaku buat gue. Entah kenapa, ‘gerah’ yang gue alamin di dalam bis membawa sensasi yang berbeda. Gelantungan, himpit-himpitan, merasakan keringat tangan lepek tetangga sebelah, adu pantat dengan kernet bis, nyanyian suara-suara pengamen, teriakan meminta memaksa anak-anak gelandangan, belum lagi lari-lari lucu kalo bisnya udah padet dan gak mau berhenti. Lika-liku kehidupan di dalam bis. Gue menyukai itu semua! Cie gitu.

Di 213, nempelin pipi di kaca bis (kalo lagi untung dapet tempat duduk), melihat Jakarta dengan kerlap-kerlip lampunya yang terang, ngelewatin Bunderan HI-Sudirman, ngedengerin lagu lewat earphone sambil baca buku, hiburan pengamen malam yang luar biasa, didukung dengan udara malam yang adem-gerah-pengap. Gue nyebut ini sebagai penutup hari yang sempurna. *cring* *jentikkin jari a la pesulap*

Balik lagi ke Jalanan Movie. 

Tuhan memang Maha Sutradara.

Waktu nonton ini, gue jadi banyak mikir buat masa depan. Serius. Gue bener-bener mau nyelesaiin skripsi gue rasanya. Terus kerja seadanya tapi bisa bermanfaat buat temen-temen di jalanan. Pengen rasanya jadi orang yang bisa ada sama mereka dan ngebantuin mereka ngejalanin hidup yang keras, yang mungkin mereka sendiri kadang gak mau milih kayak gitu.

Gue bukan orang yang selalu ada. Sedikit banyak gue tau susahnya nyari uang dan rumah buat tempat tinggal. Gue bukan orang yang selalu bisa ngambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa yang gue alamin, tapi tadi pas gue nonton itu, drama kehidupan gue tiba-tiba muter sendiri di studio lain, dan gue bersyukur bisa ngejalanin semuanya dan belajar dari situ.

Saat-saat di dalem bis, saat gue begitu dekat dengan jalan (baca: realita), gue jadi lebih sering mikir dan merendahkan hati. Kadang mikirin orang-orang yang di dalem mobil, orang-orang yang masih lembur yang gue liat dari lampu kantor di gedungnya yang masih nyala, recehan yang diitung berkali-kali sama anak-anak pengamen, ibu-ibu yang kerjaannya ngedumel setiap kali ada yang nyenggol, atau mba-mba kantoran yang walaupun berdiri gelantungan jarinya masih tetep nge-hits nge-chat pake hape touch screen-nya. Jalanan Movie ini menjawab salah satu pertanyaan gue, “keseharian mereka gimana sih?” Dan digambarkan dengan baik. Terima kasih, Daniel.

Sebagai seorang yang suka naik bis, gue salah satu orang yang akan ngelepas earphone dan memberikan perhatian penuh pada mereka-mereka yang ngamen di dalem bis. Entah itu mau bagus apa enggak. Ada hal yang menurut gue lebih penting dari uang receh yang bakal mereka dapet nantinya, mereka mau didengar. Karena itu mereka terus nyanyi, buat puisi, atau bikin karya-karya lain. Mereka mau perhatian kita wahai kalian orang-orang-yang-bisa-tidur-di-kasur-yang-empuk-dan-gak-bingung-besok-mau-makan-apa!

Pada akhirnya, film ini bener-bener berhasil membulatkan kebencian gue kepada semua pemegang kekuasaan yang seenak jidat. Dan satu hal yang sering banget ngeganggu akhir-akhir ini adalah para pemimpin di negara ini. Apakah terlalu kasar kalo gue nyebut mereka BAJINGAN? Gue minta maaf kalo bahasanya terlalu kasar tapi gue bingung dengan apalagi menggambarkan mereka. Sistem yang ngebuat orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin. Mereka harus turun ke jalan! Mereka harus liat pake hati! Bukan pake kepentingan dan rating pencitraan! Mereka harusnya bisa bergerak dan melakukan sesuatu buat rakyat! Akh! Tolonggggg..... aku emosi !@#$%^&**()0_=

Untuk ke sekian kalinya gue bersyukur bisa nonton Jalanan. Entah berapa banyak ser-ser-Alhamdulillah-Astaghfirullah-Hahaha-Hihihi dan sebutan-sebutan lainnya yang keluar dari mulut gue.

Akhir kata, overall, gue suka nonton film ini. Ya buat kalian yang mau meningkatkan rasa prihatin kalian, coba deh nonton terus turun ke jalan (bukan demo). Sekian dan tolong cintai Jakarta sebagaimana cintanya Jakarta kepada kalian yang terus menggendutkan perut-perut kalian.



Samlekum.

I Miss You, Bodoh

And so I tried my best when I took the fall
To get right back up, back in your arms
If you're out here why do I miss you so much
I feel like I had it all
Back before I lost it all
Now I just wait for you to talk to me 
– Stars, Fun.


Dan aku mulai takut terbawa cinta
Menghirup rindu yang sesakkan dada 
– Ruang Rindu, Letto


Terlalu bodoh untuk diriku
Menahan berat jutaan rindu
Apalagi menahan egoku 
– Bila Kau Tak Disampingku, Sheila On 7


Betapa pilunya rindu menusuk jiwaku
Semoga kau tau isi hatiku
Dan seiring waktu yang terus berputar
Aku masih terhanyut dalam mimpiku 
– Menanti Sebuah Jawaban, Padi


Well I wish that you would call me right now
So that I could get through to you somehow
But I guess it’s safe to say baby safe to say
That I’m officially missing you 
– Officially Missing You, Tamia


Close your eyes and I'll kiss you
Tomorrow I'll miss you
Remember I'll always be true
And then while I'm away
I'll write home every day
And I'll send all my loving to you 
– All My Loving, The Beatles


Don't you know that here or there or anywhere
I need your touch, so much
Well I miss you every night and day and I can't get enough 
– Get In Touch, Firehouse


Kata orang rindu itu indah
Namun bagiku ini menyiksa
Sejenak ku pikirkan untuk kubenci saja dirimu
Namun, sulitku membenci.
– Bimbang, Melly Goeslaw


The stars lean down to kiss you
And I lie awake and miss you
Pour me a heavy dose of atmosphere
'Cause I'll doze off safe and soundly
But I'll miss your arms around me
I'd send a postcard to you, dear
'Cause I wish you were here
- Vanilla Twilight, Owl City


Come back and tell me why
I’m feeling like I’ve missed you all this time
Meet me there tonight
Let me know that it’s not all in my mind.
– Everything Has Changed, Taylor Swift ft Ed Sheeran



Will you come home and stop this pain tonight? I miss you.
– I Miss You, Blink 182

April 7, 2014

Seandainya

Perkara keberanian, aku berharap seperti Vladimir Putin, presiden Rusia yang berani mengeluarkan kebijakan pelarangan beredarnya Dolar Amerika di negaranya. Aku berharap memperjuangkan nama baikmu seperti ia menjaga nama baik negaranya. Padahal ia tahu akan ada bencana besar di depan yang menanti dengan kebijakannya itu, tapi ia berani dengan tindakannya.

Seandainya aku adalah Vladimir Putin, mungkin aku sudah menyatakan apa yang ada di dalam dada tanpa menghiraukan ketakutan-ketakutan akan ditolak atau semacamnya. Tapi sayangnya, aku adalah Chairil Anwar yang mencintai Sri Ayati dengan berani sampai akhir hayatnya tanpa sedikitpun mengucapkan cinta karena tidak memiliki keberanian.

***
Andai saja pikiranku sependek pikiran Megawati Soekarno Putri yang dengan mudahnya menjual murah gas alam dalam kontrak LNG Tangguh ke China tanpa pikir panjang. Aku berharap memiliki pikiran "yang penting masalah selesai' tanpa berpikir apa-apa akibat ke depannya.

Seandainya aku adalah Megawati, mungkin hari ini aku sudah begitu lega karena sudah menyatakan kegelisahan dan mengabaikan reaksi-reaksi apa yang akan muncul ketika aku mengatakannya kepadamu. Yang penting semua sudah tersampaikan.

Sayangnya, aku hanyalah Susilo Bambang Yudhoyono yang pendiam dan sering kali mengeluarkan jawaban-jawaban normatif. Tapi kamu tidak akan pernah tau bagaimana rasanya jadi aku karena pergolakan hebat ada di dalam kepalaku. Yang kamu tahu, aku diam dan menonton. 

***
Andai saja aku adalah orang yang pertama kali menjajahmu seperti Neil Amstrong yang mendaratkan kakinya pertama kali ke bulan. Pastinya, aku adalah orang yang akan selalu kamu ingat selalu karena denganku hal-hal baru pertama kali kamu lakukan.

Seandainya aku adalah Neil Armstrong, mungkin hari ini kamu akan mengingatku setiap kali kamu mulai menulis. Sayangnya, aku adalah Dante Alighieri yang mencintai Beatrice sedari kecil yang kemudian melihat Beatrice menikah dengan cintanya. Dante yang tidak pernah mendapatkan apapun sampai usia menutup cintanya. Dante yang sajak-sajaknya mendunia tapi cintanya hanya bisa ia raih sedekap pelukannya. Mungkin aku adalah Dante, yang tidak bisa mendapatkanmu di kesempatan pertama atau selanjutnya.

***
Andai saja aku adalah Jokowi yang dapat berjanji dan dikendalikan. Aku akan berjanji untuk setia, mencintai, dan berusaha yang terbaik seperti janjinya pada Jakarta waktu itu.  Aku harap aku dapat dengan mudah blusukan ke hari-harimu. Aku akan memberikan harapan-harapan untuk meyakinkanmu demi sebuah kemenangan hati sebagaimana Jokowi melakukannya.

Seandainya saja aku memiliki kelebihan seperti Jokowi. Nyatanya, lidahku kelu tiap-tiap aku ingin bersumpah atas namamu. Takut-takut nantinya mengecewakan dan malah membuat hatimu sakit lalu menderita.

Sayangnya, aku adalah Summer di film 500 Days of Summer yang begitu percaya diri akan kehidupan mandiri dan tidak ingin berkomitmen apalagi mengumbar-ngumbar janji. Aku tidak bisa memberikan kabar untuk hari esok dan membuat kemungkinan-kemungkinan yang masih mungkin terjadi. Takut memiliki nama di atas hubungan karena takut akan pertanggungjawaban si lidah di hari nanti. Padahal nyatanya, aku begitu mengagungkan cinta dan begitu menginginkan pernikahan.

***
Andai saja aku secerdas Pidi Baiq yang menjawab hal-hal rumit menjadi begitu sederhana. Pastinya, aku akan memukaumu dengan kepiawaianku dan membuatmu tertarik kepadaku. Aku akan memberikan jawaban-jawaban terbaik yang tidak pernah terpikir olehmu dan setelahnya kau akan begitu kagum kepadaku.

Sayangnya, aku tidak pandai berfilsafat dan mencari cela. Mungkin aku adalah  Aan Mansyur yang tidak sebegitu menawan dan lebih memilih mengingat Kukila lewat kenangan-kenangan melalui sajak-sajak. Membingkai Kukila dalam senja dan sepi lalu menyendiri sampai hari ini dan masih belum tahu apa yang akan masa depan beri.

***
Andai sabarku seperti Fatimah yang menuliskan rindunya dalam doa-doa pengharapan kepada Illahi dan menjaganya tetap dalam imannya. Andai saja aku adalah Fatimah yang memiliki cinta yang suci, yang ia kunci rapat sendiri, dan hanya dikabarkan pada Sang Pemilik Hati. Andai saja aku Fatimah yang akhirnya memenangkan hati Ali. Sampai akhirnya, cinta menuntun cinta untuk dipertemukan atas nama cinta. 

Sayangnya, aku adalah aku yang tidak tau harus berbuat apa. Yang kadang aku sendiri tidak tahu harus memintamu atau yang terbaik menurutNya. Dengan lugunya aku memintamu untuk menjadi yang terbaik menurut pilihanNya. Dan sayangnya sampai saat ini aku hanya bisa menyayangimu, dan untuk saat ini, hanya itu yang bisa aku lakukan. 

***

March 25, 2014

Mau Naik Gunung!

Gue follow akun @infopendaki di Twitter. Akun tersebut seringkali meretweet mention yang masuk dan menampilkan foto akun-akun yang sedang ‘pamer’ di gunung. Gue sering banget bertanya-bertanya dalam hati, “itu maksudnya apa sih fotonya dipajang-pajang di sosmed gitu? Disebar-sebar pula. Pamer banget sih. Cih!”

Ya kurang lebih begitulah. Gue iri dan cemburu dan kangen dan rindu dan mupeng dan ngiler dan ah, sudahlah. Mau naik gunung lagi pokoknya!

Padahal kalau dipikir-pikir lagi, apa sih enaknya naik gunung? Bawaan berat, ribet pula mesti packing berkali-kali. Naik-turun gunung dengan trek yang beda-beda ujiannya, kadang mudah, kadang sulit (emang ujian hidup lu, brooo?).  Belum lagi cuaca yang gak bisa gitu diprediksi. Makan mesti masak sendiri, pipis susah, BAB ribet, terus pas pulang jadi tambah buluk. Abis itu biasanya pegel gak jelas dan mesti manggil tukang pijet. Halah.

Ya kalo dipikir-pikir emang banyakkan gak enaknya. Mending di rumah nonton Shinchan abis itu lanjut FTV di SCTV sambil makan nasi goreng.

Tapi, gak tau kenapa gunung itu selalu bikin kangen. Pengen terus balik lagi ke sana. Gue gak tau lebih suka yang mana. Proses naik gunungnya kah, keindahan alamnya kah, teman seperjalanannya kah, atau kebahagiaan di atas puncaknya. Yang gue tau gue suka di gunung dan selalu pengen balik lagi.

Dan setiap kali ngeliat akun-akun itu mejeng di @infopendaki, rasanya itu kaya mau minjem carrier terus langsung cabut. Katanya, home is where the heart is. Dan sepertinya hati gue udah tercecer dimana-mana, salah satunya di gunung. And I would like to say that I feel like “I’m home” when I already there. It’s just like you found your bed after getting traffic jam for couple hours or when you get your mother hugs after crying. Menenangkan, membuat nyaman, dan ah, sudahlah. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Lebay? Hahaha. Bodo amat.

Kadang gue mikir, hobi gue ini kesenangan sesaat doang apa gimana. Apa cuma karena gelora anak muda (tsah) atau pengen ikut-ikutan doang. Apa entar keluarga kecil gue bakal suka juga. Apa entar suami gue itu juga suka naik gunung, terus kita prewed sama bulan madunya ke gunung. Terus abis itu ngajak anak camping di gunung. Terus buka camp di rumah sendiri. Terus, ah, sudahlah.

Iya gue pernah, bahkan sering mikir kaya gitu. Gue pernah malahan mikir kalo nanti seserahan gue itu alat-alat buat naik gunung. Lengkap dari carrier sampe tenda. Nanti malem pertamanya bukan di atas kasur tapi buka di tenda di kamar pengantin pake head lamp yang digantungin. Muahaha. Sakit-sakit deh itu badan.

Oh, God. I can’t tell how much I love the mountain. The universe and all of the things works. It’s perfectly beautiful and awesome. Let me know something more beautiful in this world beside the beauty of the world itself. It’s fuckin awesome. And mountain deserve it all. You wanna learn about life? Get your carrier and get lost. You’ll find who you are. Because nature is the best teacher I’ve ever had. And he will teach you anything and everything. First of all, how to be a good human. Human with heart, feeling, morality, and love. Oke gue mulai ngawur. Ceritanya lagi latihan nulis bahasa inggris :))

Ya intinya gue iri sama kalian semua yang sedang memamerkan foto-foto kalian bersama si ganteng dengan lekukan-lekukan seksinya. Apalagi foto-foto pas yang ada awan atau kabut atau semburan dari kawahnya. Beuh.

Kalian sombong pokoknya.


Aku iri! Mau naik gunung juga!