April 13, 2014

Ja(karta)lanan Movie

Oke, pertama-pertama mari kita panjatkan puji dan syukur yang sebanyak-banyaknya kepada Allah SWT karena telah memberikan kesempatan buat gue nonton @JalananMovie hari ini. Ditambah lagi, Sang Maha Yang Selalu Kasihan Kepada Hambanya memberikan seorang teman untuk menemani gue nonton. Ya gak krik-krik banget lah jadinya.

Minggu, 13 April 2014 pukul 14.45 gue nonton Jalanan. Setiap adegan yang dimainin di situ rasanya dekettt banget sama keseharian gue yang suka naik 213. Iya, gue suka naik bis.

Banyak orang yang ‘gerah’ dengan kondisi angkutan umum, apalagi bis-bis kota seperti PPD, Metro Mini, Kopaja, dan sejenisnya. Namun, itu semua gak berlaku buat gue. Entah kenapa, ‘gerah’ yang gue alamin di dalam bis membawa sensasi yang berbeda. Gelantungan, himpit-himpitan, merasakan keringat tangan lepek tetangga sebelah, adu pantat dengan kernet bis, nyanyian suara-suara pengamen, teriakan meminta memaksa anak-anak gelandangan, belum lagi lari-lari lucu kalo bisnya udah padet dan gak mau berhenti. Lika-liku kehidupan di dalam bis. Gue menyukai itu semua! Cie gitu.

Di 213, nempelin pipi di kaca bis (kalo lagi untung dapet tempat duduk), melihat Jakarta dengan kerlap-kerlip lampunya yang terang, ngelewatin Bunderan HI-Sudirman, ngedengerin lagu lewat earphone sambil baca buku, hiburan pengamen malam yang luar biasa, didukung dengan udara malam yang adem-gerah-pengap. Gue nyebut ini sebagai penutup hari yang sempurna. *cring* *jentikkin jari a la pesulap*

Balik lagi ke Jalanan Movie. 

Tuhan memang Maha Sutradara.

Waktu nonton ini, gue jadi banyak mikir buat masa depan. Serius. Gue bener-bener mau nyelesaiin skripsi gue rasanya. Terus kerja seadanya tapi bisa bermanfaat buat temen-temen di jalanan. Pengen rasanya jadi orang yang bisa ada sama mereka dan ngebantuin mereka ngejalanin hidup yang keras, yang mungkin mereka sendiri kadang gak mau milih kayak gitu.

Gue bukan orang yang selalu ada. Sedikit banyak gue tau susahnya nyari uang dan rumah buat tempat tinggal. Gue bukan orang yang selalu bisa ngambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa yang gue alamin, tapi tadi pas gue nonton itu, drama kehidupan gue tiba-tiba muter sendiri di studio lain, dan gue bersyukur bisa ngejalanin semuanya dan belajar dari situ.

Saat-saat di dalem bis, saat gue begitu dekat dengan jalan (baca: realita), gue jadi lebih sering mikir dan merendahkan hati. Kadang mikirin orang-orang yang di dalem mobil, orang-orang yang masih lembur yang gue liat dari lampu kantor di gedungnya yang masih nyala, recehan yang diitung berkali-kali sama anak-anak pengamen, ibu-ibu yang kerjaannya ngedumel setiap kali ada yang nyenggol, atau mba-mba kantoran yang walaupun berdiri gelantungan jarinya masih tetep nge-hits nge-chat pake hape touch screen-nya. Jalanan Movie ini menjawab salah satu pertanyaan gue, “keseharian mereka gimana sih?” Dan digambarkan dengan baik. Terima kasih, Daniel.

Sebagai seorang yang suka naik bis, gue salah satu orang yang akan ngelepas earphone dan memberikan perhatian penuh pada mereka-mereka yang ngamen di dalem bis. Entah itu mau bagus apa enggak. Ada hal yang menurut gue lebih penting dari uang receh yang bakal mereka dapet nantinya, mereka mau didengar. Karena itu mereka terus nyanyi, buat puisi, atau bikin karya-karya lain. Mereka mau perhatian kita wahai kalian orang-orang-yang-bisa-tidur-di-kasur-yang-empuk-dan-gak-bingung-besok-mau-makan-apa!

Pada akhirnya, film ini bener-bener berhasil membulatkan kebencian gue kepada semua pemegang kekuasaan yang seenak jidat. Dan satu hal yang sering banget ngeganggu akhir-akhir ini adalah para pemimpin di negara ini. Apakah terlalu kasar kalo gue nyebut mereka BAJINGAN? Gue minta maaf kalo bahasanya terlalu kasar tapi gue bingung dengan apalagi menggambarkan mereka. Sistem yang ngebuat orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin. Mereka harus turun ke jalan! Mereka harus liat pake hati! Bukan pake kepentingan dan rating pencitraan! Mereka harusnya bisa bergerak dan melakukan sesuatu buat rakyat! Akh! Tolonggggg..... aku emosi !@#$%^&**()0_=

Untuk ke sekian kalinya gue bersyukur bisa nonton Jalanan. Entah berapa banyak ser-ser-Alhamdulillah-Astaghfirullah-Hahaha-Hihihi dan sebutan-sebutan lainnya yang keluar dari mulut gue.

Akhir kata, overall, gue suka nonton film ini. Ya buat kalian yang mau meningkatkan rasa prihatin kalian, coba deh nonton terus turun ke jalan (bukan demo). Sekian dan tolong cintai Jakarta sebagaimana cintanya Jakarta kepada kalian yang terus menggendutkan perut-perut kalian.



Samlekum.

I Miss You, Bodoh

And so I tried my best when I took the fall
To get right back up, back in your arms
If you're out here why do I miss you so much
I feel like I had it all
Back before I lost it all
Now I just wait for you to talk to me 
– Stars, Fun.


Dan aku mulai takut terbawa cinta
Menghirup rindu yang sesakkan dada 
– Ruang Rindu, Letto


Terlalu bodoh untuk diriku
Menahan berat jutaan rindu
Apalagi menahan egoku 
– Bila Kau Tak Disampingku, Sheila On 7


Betapa pilunya rindu menusuk jiwaku
Semoga kau tau isi hatiku
Dan seiring waktu yang terus berputar
Aku masih terhanyut dalam mimpiku 
– Menanti Sebuah Jawaban, Padi


Well I wish that you would call me right now
So that I could get through to you somehow
But I guess it’s safe to say baby safe to say
That I’m officially missing you 
– Officially Missing You, Tamia


Close your eyes and I'll kiss you
Tomorrow I'll miss you
Remember I'll always be true
And then while I'm away
I'll write home every day
And I'll send all my loving to you 
– All My Loving, The Beatles


Don't you know that here or there or anywhere
I need your touch, so much
Well I miss you every night and day and I can't get enough 
– Get In Touch, Firehouse


Kata orang rindu itu indah
Namun bagiku ini menyiksa
Sejenak ku pikirkan untuk kubenci saja dirimu
Namun, sulitku membenci.
– Bimbang, Melly Goeslaw


The stars lean down to kiss you
And I lie awake and miss you
Pour me a heavy dose of atmosphere
'Cause I'll doze off safe and soundly
But I'll miss your arms around me
I'd send a postcard to you, dear
'Cause I wish you were here
- Vanilla Twilight, Owl City


Come back and tell me why
I’m feeling like I’ve missed you all this time
Meet me there tonight
Let me know that it’s not all in my mind.
– Everything Has Changed, Taylor Swift ft Ed Sheeran



Will you come home and stop this pain tonight? I miss you.
– I Miss You, Blink 182

April 7, 2014

Seandainya

Perkara keberanian, aku berharap seperti Vladimir Putin, presiden Rusia yang berani mengeluarkan kebijakan pelarangan beredarnya Dolar Amerika di negaranya. Aku berharap memperjuangkan nama baikmu seperti ia menjaga nama baik negaranya. Padahal ia tahu akan ada bencana besar di depan yang menanti dengan kebijakannya itu, tapi ia berani dengan tindakannya.

Seandainya aku adalah Vladimir Putin, mungkin aku sudah menyatakan apa yang ada di dalam dada tanpa menghiraukan ketakutan-ketakutan akan ditolak atau semacamnya. Tapi sayangnya, aku adalah Chairil Anwar yang mencintai Sri Ayati dengan berani sampai akhir hayatnya tanpa sedikitpun mengucapkan cinta karena tidak memiliki keberanian.

***
Andai saja pikiranku sependek pikiran Megawati Soekarno Putri yang dengan mudahnya menjual murah gas alam dalam kontrak LNG Tangguh ke China tanpa pikir panjang. Aku berharap memiliki pikiran "yang penting masalah selesai' tanpa berpikir apa-apa akibat ke depannya.

Seandainya aku adalah Megawati, mungkin hari ini aku sudah begitu lega karena sudah menyatakan kegelisahan dan mengabaikan reaksi-reaksi apa yang akan muncul ketika aku mengatakannya kepadamu. Yang penting semua sudah tersampaikan.

Sayangnya, aku hanyalah Susilo Bambang Yudhoyono yang pendiam dan sering kali mengeluarkan jawaban-jawaban normatif. Tapi kamu tidak akan pernah tau bagaimana rasanya jadi aku karena pergolakan hebat ada di dalam kepalaku. Yang kamu tahu, aku diam dan menonton. 

***
Andai saja aku adalah orang yang pertama kali menjajahmu seperti Neil Amstrong yang mendaratkan kakinya pertama kali ke bulan. Pastinya, aku adalah orang yang akan selalu kamu ingat selalu karena denganku hal-hal baru pertama kali kamu lakukan.

Seandainya aku adalah Neil Armstrong, mungkin hari ini kamu akan mengingatku setiap kali kamu mulai menulis. Sayangnya, aku adalah Dante Alighieri yang mencintai Beatrice sedari kecil yang kemudian melihat Beatrice menikah dengan cintanya. Dante yang tidak pernah mendapatkan apapun sampai usia menutup cintanya. Dante yang sajak-sajaknya mendunia tapi cintanya hanya bisa ia raih sedekap pelukannya. Mungkin aku adalah Dante, yang tidak bisa mendapatkanmu di kesempatan pertama atau selanjutnya.

***
Andai saja aku adalah Jokowi yang dapat berjanji dan dikendalikan. Aku akan berjanji untuk setia, mencintai, dan berusaha yang terbaik seperti janjinya pada Jakarta waktu itu.  Aku harap aku dapat dengan mudah blusukan ke hari-harimu. Aku akan memberikan harapan-harapan untuk meyakinkanmu demi sebuah kemenangan hati sebagaimana Jokowi melakukannya.

Seandainya saja aku memiliki kelebihan seperti Jokowi. Nyatanya, lidahku kelu tiap-tiap aku ingin bersumpah atas namamu. Takut-takut nantinya mengecewakan dan malah membuat hatimu sakit lalu menderita.

Sayangnya, aku adalah Summer di film 500 Days of Summer yang begitu percaya diri akan kehidupan mandiri dan tidak ingin berkomitmen apalagi mengumbar-ngumbar janji. Aku tidak bisa memberikan kabar untuk hari esok dan membuat kemungkinan-kemungkinan yang masih mungkin terjadi. Takut memiliki nama di atas hubungan karena takut akan pertanggungjawaban si lidah di hari nanti. Padahal nyatanya, aku begitu mengagungkan cinta dan begitu menginginkan pernikahan.

***
Andai saja aku secerdas Pidi Baiq yang menjawab hal-hal rumit menjadi begitu sederhana. Pastinya, aku akan memukaumu dengan kepiawaianku dan membuatmu tertarik kepadaku. Aku akan memberikan jawaban-jawaban terbaik yang tidak pernah terpikir olehmu dan setelahnya kau akan begitu kagum kepadaku.

Sayangnya, aku tidak pandai berfilsafat dan mencari cela. Mungkin aku adalah  Aan Mansyur yang tidak sebegitu menawan dan lebih memilih mengingat Kukila lewat kenangan-kenangan melalui sajak-sajak. Membingkai Kukila dalam senja dan sepi lalu menyendiri sampai hari ini dan masih belum tahu apa yang akan masa depan beri.

***
Andai sabarku seperti Fatimah yang menuliskan rindunya dalam doa-doa pengharapan kepada Illahi dan menjaganya tetap dalam imannya. Andai saja aku adalah Fatimah yang memiliki cinta yang suci, yang ia kunci rapat sendiri, dan hanya dikabarkan pada Sang Pemilik Hati. Andai saja aku Fatimah yang akhirnya memenangkan hati Ali. Sampai akhirnya, cinta menuntun cinta untuk dipertemukan atas nama cinta. 

Sayangnya, aku adalah aku yang tidak tau harus berbuat apa. Yang kadang aku sendiri tidak tahu harus memintamu atau yang terbaik menurutNya. Dengan lugunya aku memintamu untuk menjadi yang terbaik menurut pilihanNya. Dan sayangnya sampai saat ini aku hanya bisa menyayangimu, dan untuk saat ini, hanya itu yang bisa aku lakukan. 

***

March 25, 2014

Mau Naik Gunung!

Gue follow akun @infopendaki di Twitter. Akun tersebut seringkali meretweet mention yang masuk dan menampilkan foto akun-akun yang sedang ‘pamer’ di gunung. Gue sering banget bertanya-bertanya dalam hati, “itu maksudnya apa sih fotonya dipajang-pajang di sosmed gitu? Disebar-sebar pula. Pamer banget sih. Cih!”

Ya kurang lebih begitulah. Gue iri dan cemburu dan kangen dan rindu dan mupeng dan ngiler dan ah, sudahlah. Mau naik gunung lagi pokoknya!

Padahal kalau dipikir-pikir lagi, apa sih enaknya naik gunung? Bawaan berat, ribet pula mesti packing berkali-kali. Naik-turun gunung dengan trek yang beda-beda ujiannya, kadang mudah, kadang sulit (emang ujian hidup lu, brooo?).  Belum lagi cuaca yang gak bisa gitu diprediksi. Makan mesti masak sendiri, pipis susah, BAB ribet, terus pas pulang jadi tambah buluk. Abis itu biasanya pegel gak jelas dan mesti manggil tukang pijet. Halah.

Ya kalo dipikir-pikir emang banyakkan gak enaknya. Mending di rumah nonton Shinchan abis itu lanjut FTV di SCTV sambil makan nasi goreng.

Tapi, gak tau kenapa gunung itu selalu bikin kangen. Pengen terus balik lagi ke sana. Gue gak tau lebih suka yang mana. Proses naik gunungnya kah, keindahan alamnya kah, teman seperjalanannya kah, atau kebahagiaan di atas puncaknya. Yang gue tau gue suka di gunung dan selalu pengen balik lagi.

Dan setiap kali ngeliat akun-akun itu mejeng di @infopendaki, rasanya itu kaya mau minjem carrier terus langsung cabut. Katanya, home is where the heart is. Dan sepertinya hati gue udah tercecer dimana-mana, salah satunya di gunung. And I would like to say that I feel like “I’m home” when I already there. It’s just like you found your bed after getting traffic jam for couple hours or when you get your mother hugs after crying. Menenangkan, membuat nyaman, dan ah, sudahlah. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Lebay? Hahaha. Bodo amat.

Kadang gue mikir, hobi gue ini kesenangan sesaat doang apa gimana. Apa cuma karena gelora anak muda (tsah) atau pengen ikut-ikutan doang. Apa entar keluarga kecil gue bakal suka juga. Apa entar suami gue itu juga suka naik gunung, terus kita prewed sama bulan madunya ke gunung. Terus abis itu ngajak anak camping di gunung. Terus buka camp di rumah sendiri. Terus, ah, sudahlah.

Iya gue pernah, bahkan sering mikir kaya gitu. Gue pernah malahan mikir kalo nanti seserahan gue itu alat-alat buat naik gunung. Lengkap dari carrier sampe tenda. Nanti malem pertamanya bukan di atas kasur tapi buka di tenda di kamar pengantin pake head lamp yang digantungin. Muahaha. Sakit-sakit deh itu badan.

Oh, God. I can’t tell how much I love the mountain. The universe and all of the things works. It’s perfectly beautiful and awesome. Let me know something more beautiful in this world beside the beauty of the world itself. It’s fuckin awesome. And mountain deserve it all. You wanna learn about life? Get your carrier and get lost. You’ll find who you are. Because nature is the best teacher I’ve ever had. And he will teach you anything and everything. First of all, how to be a good human. Human with heart, feeling, morality, and love. Oke gue mulai ngawur. Ceritanya lagi latihan nulis bahasa inggris :))

Ya intinya gue iri sama kalian semua yang sedang memamerkan foto-foto kalian bersama si ganteng dengan lekukan-lekukan seksinya. Apalagi foto-foto pas yang ada awan atau kabut atau semburan dari kawahnya. Beuh.

Kalian sombong pokoknya.


Aku iri! Mau naik gunung juga!

March 17, 2014

Kencan di Kafe Gadis

Yang aku tahu, rindu harus disampaikan. Yang tidak aku tahu, adakah cara lain untuk menyampaikannya?


Hai, Gadis.

Ini cangkir ke-129. Semenjak hari terakhir kita bertemu, aku rajin datang ke kafe ini tiap malam minggu. Isi cangkir ini masih sama dengan isi cangkir terakhir kita berbincang di kafe waktu itu. Bedanya, aku meminumnya sendirian kali ini.

Kafe ini biasa, tidak terlalu bagus. Tidak ada yang istimewa selain lampu temaramnya di dalam dan kerlap-kerlip di tamannya. Oh ya, suara kelentung yang berbunyi setiap kali angin datang dan pengunjungnya yang tidak begitu ramai menjadi pilihan kenapa kita suka ke sini waktu itu.

Aku memilih duduk di sofa merah maroon yang berseberangan paling jauh dari bar table dan memesan Espresso, seperti biasa. Di pojok sini dekat dengan speaker kafe dan suara musik yang mengalun lembut selalu menghipnotisku untuk melupakan waktu.

Ordinary People-nya John Legend sedang berputar. Hari ini aku memakai kaos hitam dengan jeans belel dan sepatu Converse hitam buluk, seperti biasa. Aku biasa datang pukul delapan, dan pulang menjelang jam dua belas malam. Saat jalanan mulai lengang oleh perkara-perkara kehidupan. Di saat muda-mudi satu persatu mulai pulang setelah merayakan pertemuan.

Aku mengambil rokok dan mulai menyalakannya. “Ah, sial! Gasnya habis,” batinku. Aku lalu memanggil Bowo, waitress yang biasa membawakan minuman untukku dan meminjam koreknya.

“Pake dulu aja, Mas Donny. Selow aja sama saya mah.” Kata Bowo dengan senyumnya yang sumringah seperti biasa.
Aku lalu membalasnya senyumnya dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.

Rokok pertama aku bakar. Aku menghisapnya dalam sambil merebahkan pundak ke senderan sofa. Asap pertama aku hembuskan.

Gadis, aku merindukanmu.

***

Hari itu hari terakhir kita bertemu.

Waktu itu minuman di cangkir sudah aku minum tiga perempat. Sweet Disposition-nya The Temper Trap sedang dimainkan. Dan aku memberanikan diri untuk mengatakan apa yang aku rasakan sebelum cangkir kosong sepenuhnya.

Saat itu aku bilang kalau belakangan aku selalu menunggu kabar darimu. Tanpa disadari, kau datang membawa mimpi-mimpi. Namamu adalah kontak yang aku tunggu kehadirannya di layar handphoneku setiap harinya. Entah itu untuk mengajakmu jalan, berdiskusi soal fisika kuantum yang sangat aku gemari, wajah politikus siapa yang kamu benci hari itu, atau sekedar untuk meminta dibangunkan untuk memenuhi deadline pekerjaanku.

Aku bilang bahwa tanpa sadar aku begitu nyaman berada di dekatmu dan sedikit banyak ingin menjadikanmu pulang dari setiap perjalananku. Kamu tau kan? Home is where the heart is. Dan saat itu aku begitu yakin bahwa dirimu adalah rumah yang aku harapkan untuk menaungiku setelah ini.

Saat itu aku bilang bahwa tanpa sadar aku membayangkan masa depan yang ada kamu di dalamnya. Bagaimana nanti kita akan menikah dan punya banyak keseruan bersama dengan anak-anak kita.

Malam itu, aku mengakui bahwa aku bohong waktu bilang aku masih menantikan adik kelasku itu. Aku bohong waktu bilang masih merindukan perangainya yang menyenangkan. Aku bohong waktu bilang masih ingin menjalin cinta dengannya. Tidakkah kau lihat bagaimana kikuk menyergap ketika aku menyampaikan itu padamu? Oh demi Tuhan, aku yakin kau sadar. Waktu kamu bertanya apakah aku menyukaimu, aku menginjak rem mendadak sampai kemeja merahmu itu terkena tumpahan air mineral.  Dan jawaban-jawaban itu adalah yang terlintas pertama di kepalaku. Aku tidak pandai berbohong, Gadis.

Terlebih, ketika aku berbohong setiap kali aku menertawakan kita. Kau tau? Tawaku nyaring tapi sangat-sangat hambar. Aku tidak suka menjadi pusat perhatian teman-teman kita dan memilih untuk menertawakannya. Dan sekarang aku membenci sikapku yang begitu pecundang saat itu.

Jam dinding menunjukkan pukul setengah 12 malam. Aku ingat betul, waktu itu Firehouse dengan I Live My Life For You-nya berputar mengiringi pernyataan-pernyataanku.

Aku membakar rokok terakhir malam itu dan menyeruput Espresso terakhir di cangkirku. Saat itu udara di kafe cukup dingin, namun berhasil membuat satu-dua titik keringat di dahiku. Aku menatapmu yang sedang menatap kuku-kuku jarimu. Semenit, dua menit, tiga menit, kamu diam. Entah bagaimana mengatakannya, tapi aku benar-benar menderita saat menantikan jawaban darimu.

Sudahkah aku merusak persabatan yang kita bangun?

Ketika kamu mengangkat wajah, senyuman itu adalah senyum termanis yang terakhir kali aku lihat. Sambil merapikan letak ponimu dan decak air mata di sudut mata, kamu bilang terima kasih. Kamu bilang terima kasih untuk keberanian dan kejujuran yang aku tuturkan. Katamu, waktu ini adalah waktu yang kamu tunggu-tunggu selama ini. Aku menyimpulkan senyum tipis kelegaan.

Dengan lancarnya kamu bercerita bagaimana kamu selalu bergegas membalas setiap apa-apa yang aku sampaikan dan berusaha menarik sedemikian rupa agar percakapan tidak habis karena membosankan. Bagaimana kamu menyebut namaku dalam doa-doa yang kamu langitkan. Bagaimana dengan sabarnya kamu mengelus dada setiap kali aku menceritakan perempuan-perempuan yang menarik perhatianku. Bagaimana kamu menahan rasa untuk tidak mengungkapkan perasaan ini kepada teman-temanmu karena takut hanya kamu yang merasa.

Oh, Gadis. Matamu begitu berbinar menceritakan semuanya. Dan hal itu membuatku merasa aku menjadi semakin bodoh di matamu.

Bowo si waitress datang bertanya apakah mau tambah pesanan dengan senyum sumringahnya itu. Aku bilang aku minta segelas air mineral dan kamu menggeleng sambil tersenyum kecut.

Setelah Bowo berlalu, kamu bercerita bagaimana kamu merasa cukup untuk semuanya sambil menggulung lengan kemejamu sampai ke siku.  

Aku bingung.

Kejadian di mobil saat itu, waktu kamu bertanya apakah aku menyukaimu,  adalah awal sekaligus akhir. Pertanyaan bercandamu saat itu adalah keberanian pertama yang kamu layangkan, akumu. Sesampainya di rumah, kamu berjanji untuk menyudahinya.  Bukan karena menyerah, tapi karena kamu memilih untuk mencintai kita sendirian saja. Bagaimana setelah hari itu kamu minta dikuatkan setiap kali menatap mataku. Menjaga diri untuk tidak lagi menumbuhkan harapan-harapan.     

Oh, Gadis. Demi Tuhan, aku begitu lemas mendengarnya.

Selanjutnya kamu bilang, tanpa sepengetahuanku, kamu mengurus studi lanjutan ke luar negeri di tempat yang kamu idam-idamkan. Dua detik kemudian kamu menelan ludah paksa. Lalu mohon pamit untuk menikah dengan teman kerjamu, Hendra.

Pupus-nya Dewa 19 mengalun dari speaker kafe. Sepertinya mereka semua berkomplot untuk semua drama ini.

Oh, Gadis. Aku tidak menyangka bahwa kamu menyimpan rasa dan rahasia begitu banyak di belakangku. Aku pikir selama ini hanya aku yang terlalu egois menyimpannya. Ternyata kamu lebih pintar menyembunyikan semua dariku. Sebegitu menyakitkankah kejadian di mobil saat itu? 

Lengkap sudah sesalku, Gadis. Kepalaku mendadak pening dan ada gerumulan gejolak di dalam perutku.

Tidak lama setelah itu, kamu izin untuk pamit pulang. Aku memaksa untuk mengantarkanmu ke rumah, tapi kamu menolakknya. Kamu bilang, Hendra akan menjemputmu dan kamu memohon agar aku berjanji untuk tidak mencari dan menghubungimu lagi. Lidahku kelu. Tapi entah mengapa, aku menunduk dan meng-iyakannya.

***

Bagaimana kabarmu sekarang, Gadis? Dari laman Facebookmu, aku lihat gadis kecilmu sedang belajar berjalan. Aku turut berbahagia.  Semoga kebahagiaan selalu menyertai hari-harimu.

Rokok ke tigaku sudah habis. Bowo sudah mulai menaikkan kursi-kursi kafe ke atas meja. Asap terakhir ini aku hembuskan paksa seiring dengan nafas dan beban yang ada di hatiku.

Ciuman perpisahan di kening saat kita terakhir bertemu waktu itu masih terasa sampai hari ini.  Aku minta maaf untuk semua keterlambatan, kebodohan, dan semua kemunafikan.

Tidakkah kamu tahu, Gadis? Pria itu tercipta untuk kuat, tapi entah kenapa hatinya begitu lemah.  Aku telah menemukan seorang perempuan yang melemahkanku, kamu. Satu paket beserta kehilangannya. 

Yang aku tahu, Gadis, rindu harus disampaikan. Yang tidak aku tahu, adakah cara lain untuk menyampaikannya selain berkencan dengan bayanganmu? Kalau merindukanmu adalah sebuah kesalahan, aku memilih untuk tidak lagi mengetahui kebenaran.

Ini sudah jam setengah satu pagi. I Miss You milik Blink 182 sedang dimainkan dan aku rasa aku harus pulang. Cangkirku sudah kosong, jalanan sepertinya juga. Lagi pula, aku masih punya malam minggu yang lain. 

Bye, Gadis.

Will you come home and stop this pain tonight? I miss you.