Sebagai mantan mahasiswa psikologi, gue ngerasa sadar tahap
perkembangan psikologis gue berantakan banget. Di usia gue yang masuk ke dalam
kategori dewasa awal, gue sudah mengalami post-power syndrome yang harusnya
dialami oleh orang-orang jompo. Di umur segini pun isu soal mencari tujuan
hidup dan jati diri baru kebentuk padahal itu seharusnya terjadi di usia
remaja. Namun karena gue tipe orang yang sangat berusaha menghargai
proses, gue menganggap itu semua sebagai bentuk pembelajaran.
Sekarang gue kerja sebagai salah satu staff Human
Resources di sebuah perusahan riset dengan konsentrasi ke rekrutmen.
Ketika lulus kuliah, gue janji gue gak mau ikutan kayak
orang-orang kebanyakan, kalo anak psikologi itu kerjanya jadi HR. Gue juga sangat
bangga sama diri gue karena gak ikut-ikutan temen-temen gue ke job fair, nyari
kerjaan, apply di jobstreet sampai khatam list perusahaan dan hal-hal bodoh lainnya. Gue lebih
milih buat kerja freelance, tidak terikat, dan kalau bisa harus sesuai sama
passion gue. Dengan pengalaman kerja dan skill yang gue punya, gue yakin banget
gue gak akan kesulitan nyari kerja. Alhamdulillah gue benar soal itu. Setiap posisi
yang gue lamar, kebanyakan gue dapet dan kalo gak cocok, gue gak ragu buat
ngelepehin itu kerjaan. Karena gue yakin kalo gue bisa dapet yang lebih baik dan gue tau maunya gue apa. Soal ini, gue yakin
gue gak salah.
Lalu tibalah saat itu. Saat di mana motor gue mati total dan
harus ganti baru dan gue harus membayar cicilan motor dan mengambil alih beberapa
subsidi ekonomi keluarga yang menjadi tanggung jawab gue. Uang dari hasil kerja
serabutan gue yang kadang-berlebihan-kadang-kurang-banget ternyata gak cukup
untuk meng-handle itu semua dan tuntutan dari mana-mana yang hampir setiap
harinya menanyakan apa pekerjaan gue dan jawaban gue yang asal tidak pernah
memuaskan mereka. Gue juga heran kenapa sih harus peduli amat sama omongan orang.
Pada akhirnya di tahun 2015 gue membuat resolusi, gue harus
dapet kerja supaya bisa naik gunung abis lebaran! See?! Tujuan gue jelas banget!
Hahahaha! Alasan ke dua adalah, cicilan motor gue harus dibayar, gue harus beli
beras ,dan hura-hura harus jalan terus! :p
Lebih dari itu semua gue sedang menantang diri gue, bisa gak
sih gue hidup teratur dengan gaji sebagai reward dan punishment yang jelas. Gimana
masuk ke iklim perkantoran yang gue mentah-mentahin karena sarat akan
kapitalisme yang udah gue maki abis-abisan. Gimana gue men-challenge diri gue
buat bikin perubahan di sebuah sistem dari hasil perjalanan gue selama ini. Gimana
gue memetakan diri gue di tempat yang jelas bukan comfort-zone gue. Gimana gue
pada akhirnya harus menunduk hormat pada kebutuhan dan tuntutan yang dengan
cantiknya membungkukkan paksa keegoisan dan idealisme gue.
Gue yakin, di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan. Gue
udah mengajukan proposal gue dengan jelas ke Sang Maha Sponsor, dan gue yakin
di-approve. Dan… tadaaa...., satu setengah bulan setelah resolusi 2015 gue buat,
gue dapet kerja. Setelah proses nyari kerja yang males-malesan dan wawancara yang gue jawab dengan bodoh dan asal, gue
keterima!
Membiasakan diri untuk mengerjakan hal yang tidak sesuai dengan kita adalah
sebuah hal yang sulit. Apalagi sampai memaksa diri untuk membuat hal tersebut
nyaman dengan diri kita. Itu sama halnya seperti ketika lo gak suka sama cowok
tapi akhirnya nerima itu cowok karena itu cowok mau bunuh diri. Bawaannya empet
terus jadinya! -_-
Lalu pada akhirnya gue harus berperang dengan diri gue sendiri.
Nah itu lah yang terjadi di gue. Di hari ke dua gue kerja,
gue mau resign. Di hari ke delapan, gue galau teriak-teriak ke temen-temen gue kalo gue tersiksa batiniah kerja kantoran, dan
itu terus berlangsung sampai hari ini. Tapi, selama dua bulan kerja, banyak
terjadi perubahan dalam diri gue. Mau tau apa aja? Mari kita urai bersama satu
per satu.
Gue udah bisa bikin alis.
Sebagai seorang gadis yang tumbuh besar di
abad masa kini, entah kenapa membuat alis yang simetris nan rapih dan menarik
adalah sebuah kewajiban. Gue pengen banget ngajak duduk bareng orang yang
menciptakan konsep cantik yang seperti ini terus gue nasehatin supaya tidak
membuat hajat hidup orang banyak susah. Men, tiap pagi, minimal 20 menit waktu
gue abis buat ngegambar alis! Dan alis gue akan luntur setelah wudhu shalat
zhuhur. Such a useless thingy. Pft...
Gue jadi gak bisa bangun pagi.
Gue gak tau hal heboh apa yang gue lakuin
di kantor. Yang jelas kalo udah di rumah dan tidur, gue udah gak inget apa-apa
lagi dan rasanya jam tidur itu selalu kurang. Padahal dulu kalo abis begadang
sekalipun, abis shalat shubuh, gue masih kuat buat gak tidur lagi besokannya. Sekarang,
jangankan begadang, buat bangun shalat shubuh aja nyokap harus teriak-teriak terus
abis itu gue tidur lagi dan bangun di jam mendekati masuk kantor. Iya, dari
awal masuk sampe sekarang gue selalu telat.
Bye-bye tidur siang.
Ini hal yang paling gue rindukan ketika
menjadi seorang pengangguran. Bobo siang dan bobo sore. Gak perlu pembahasan
soal ini, kalian tau sendiri kan gimana nikmatnya dua hal ini? Nomnomnom~
- Berhasil membuka tantangan-tantangan selanjutnya.
Ketika baru awal masuk gue berusaha buat
suka sama kerjaan, tapi hasilnya nihil karena gue emang gak cocok. Gue menganut sistem asal kelar dan kalo udah kelar gue minta nambah
dan malah lebih banyak yang gak gue selesaiin. Gue membenarkan hal-hal itu terjadi karena, yaa...bukan passion.
Berhubung
gue orang yang LOC-nya internal banget, jadinya semua hal gue refleksi ke diri gue
lagi. Gue selalu menyalahkan diri gue yang susah beradaptasi untuk hal yang gak gue suka. Gue jadi suka nanya
apa sih sebenernya yang gue mau, apa sih yang harusnya gue lakuin, gue harusnya
tuh ngapain sih di sini, gue kok buang-buang waktu banget ngerjain yang gak gue suka, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang senantiasa menemani hari-hari kegalauan gue.
Lalu pada akhirnya gue belajar lebih jauh untuk mengeksplor diri
gue. Ternyata gue emang punya passion di HR. Pekerjaan yang berusaha gue
sayangi ini ribet, makanya gue gak suka. Untuk itulah gue di situ, membuat sesuatunya
lebih mudah. Pekerjaan gue tidak memenuhi SOP seperti yang bangku kuliah
ajarkan. Maka dari itu gue ada di situ, untuk menegakkan standar-standar itu. Perusahaan menggaji kecil dan tidak sesuai
UMR, hati gue capek ngeliat ketikadilan jelas-jelas di depan mata gue. Untuk itu
gue ada. Memastikan orang-orang itu mendapatkan sesuai dengan haknya.
Ke depannya gue jadi kayak jelas melihat
pemetaan karir gue. Gue pengen berkarir di HR sampai memahami seluk beluk
masalah yang terjadi sampai di level paling bawah. Ke depannya gue mau belajar
di level menengah, lalu sampai di level yang paling atas. Ketika gue udah punya
semua ilmunya, gue pengen nerusin buat jadi konsultan yang berpengalaman.
Kemudian gue membuat tantangan baru. Apakah gue
bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan gue tadi? Gue yakin gue bisa. Gak usah
ngomong soal gaji. Cukup aja udah Alhamdulillah. Ini bukan lagi soal kerja dan
bayar cicilan motor atau beli beras. Lebih dari itu, gue bekerja di sini adalah
untuk kerja itu sendiri. I wish I can prove my words!
Kembali pada topik yang diangkat di paragraf pertama.
Soal kemunduran. Yep, saya menemukan diri saya di
siang-siang bolong yang penuh tekanan dari sana-sini. Di usia yang ke dua puluh
tiga tahun ini akhirnya gue menemukan apa keinginan gue. Mungkin gue bisa
resign sekarang terus lanjut kerja yang sesuai passion gue, tapi setelah gue
telusuri, gue ternyata tidak mau.
Siapa sih yang gak mau kerja sesuai passion
dengan gaji yang besar? Semua pasti mau. Tapi sekarang gue sedang ingin menyelesaikan
apa yang gue mulai. Gue mau mengondisikan diri gue di tempat yang sangat gue
usahakan untuk gue suka. Gue mau membuat perubahan di sebuah sistem yang sudah
berjalan. Gue ingin membuktikan bahwa perusahaan meng-hire gue karena gue punya
kelebihan di bidang di mana gue di gaji--rekrutmen. Bukan karena gue harus melaksanakan pekerjaan dengan benar, tapi lebih ke bagaimana gue melakukan hal-hal benar yang seharusnya dilaksanakan.
Soal post-power syndrome. Gue ngerasa gue lebih berjaya
ketika dahulu kala. Gue lebih berani, lebih nekat, lebih berhasil melakukan
banyak pencampaian dalam bentuk real. Tapi sekarang apa? Untuk bangun pagi aja
susehnye minta ampun. Nah sekarang mungkin waktunya gue buat mengembalikan
masa-masa kejayaan gue itu, tapi dalam scope lain. Dulu gue masih egois,
sekarang juga sih hehehe. Gue gak peduli orang lain mau gimana, yang jelas
keinginan gue harus tercapai. Tapi sekarang gak bisa gitu. Gue harus
menyesuaikan kapasitas gue untuk banyak kepala. Contoh kecil hal yang ingin gue
lakukan; gue mau perusahaan memakai sistem rekrutmen dan development yang akan
gue buat. Anggap aja ini kegilaan selanjutnya yang harus gue kerjakan dan harus
selesai sebelum gue resign nanti. :p
Waktu gue minta sama Allah mau kerja terus dikasih
kemudahan, gue yakin Dia gak main-main. Semua pasti ada hikmahnya. Gue yakin
banget. Dan sekarang, tugas gue adalah bergerak. Manakah yang lebih indah pada
akhirnya nanti? Yang mau untuk ditempa atau bermanja diri? Mungkin materi bisa
dijadikan ukuran kesuksesan dari seseorang, tapi buat gue, kemenangan ketika
bisa menyelesaikan target-target yang dibuat, yang sifatnya lebih personal, itu
bahagianya luar biasa. Karena bahagia yang sederhana sudah terlalu mainstream!
Btw, apakah tujuan hidup gue di HR ke depannya yang gue buat di tulisan ini karena lingkungan yang menghamili pemikiran gue supaya mikir ke sana? Hmmm.....