April 30, 2015

Cicilan Motor yang Berbuah Filosofi yang (Sok) Bijak

Sebagai mantan mahasiswa psikologi, gue ngerasa sadar tahap perkembangan psikologis gue berantakan banget. Di usia gue yang masuk ke dalam kategori dewasa awal, gue sudah mengalami post-power syndrome yang harusnya dialami oleh orang-orang jompo. Di umur segini pun isu soal mencari tujuan hidup dan jati diri baru kebentuk padahal itu seharusnya terjadi di usia remaja. Namun karena gue tipe orang yang sangat berusaha menghargai proses, gue menganggap itu semua sebagai bentuk pembelajaran.

Sekarang gue kerja sebagai salah satu staff Human Resources di sebuah perusahan riset dengan konsentrasi ke rekrutmen.

Ketika lulus kuliah, gue janji gue gak mau ikutan kayak orang-orang kebanyakan, kalo anak psikologi itu kerjanya jadi HR. Gue juga sangat bangga sama diri gue karena gak ikut-ikutan temen-temen gue ke job fair, nyari kerjaan, apply di jobstreet sampai khatam list perusahaan dan hal-hal bodoh lainnya. Gue lebih milih buat kerja freelance, tidak terikat, dan kalau bisa harus sesuai sama passion gue. Dengan pengalaman kerja dan skill yang gue punya, gue yakin banget gue gak akan kesulitan nyari kerja. Alhamdulillah gue benar soal itu. Setiap posisi yang gue lamar, kebanyakan gue dapet dan kalo gak cocok, gue gak ragu buat ngelepehin itu kerjaan. Karena gue yakin kalo gue bisa dapet yang lebih baik dan gue tau maunya gue apa. Soal ini, gue yakin gue gak salah.

Lalu tibalah saat itu. Saat di mana motor gue mati total dan harus ganti baru dan gue harus membayar cicilan motor dan mengambil alih beberapa subsidi ekonomi keluarga yang menjadi tanggung jawab gue. Uang dari hasil kerja serabutan gue yang kadang-berlebihan-kadang-kurang-banget ternyata gak cukup untuk meng-handle itu semua dan tuntutan dari mana-mana yang hampir setiap harinya menanyakan apa pekerjaan gue dan jawaban gue yang asal tidak pernah memuaskan mereka. Gue juga heran kenapa sih harus peduli amat sama omongan orang.

Pada akhirnya di tahun 2015 gue membuat resolusi, gue harus dapet kerja supaya bisa naik gunung abis lebaran! See?! Tujuan gue jelas banget! Hahahaha! Alasan ke dua adalah, cicilan motor gue harus dibayar, gue harus beli beras ,dan hura-hura harus jalan terus! :p

Lebih dari itu semua gue sedang menantang diri gue, bisa gak sih gue hidup teratur dengan gaji sebagai reward dan punishment yang jelas. Gimana masuk ke iklim perkantoran yang gue mentah-mentahin karena sarat akan kapitalisme yang udah gue maki abis-abisan. Gimana gue men-challenge diri gue buat bikin perubahan di sebuah sistem dari hasil perjalanan gue selama ini. Gimana gue memetakan diri gue di tempat yang jelas bukan comfort-zone gue. Gimana gue pada akhirnya harus menunduk hormat pada kebutuhan dan tuntutan yang dengan cantiknya membungkukkan paksa keegoisan dan idealisme gue.

Gue yakin, di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan. Gue udah mengajukan proposal gue dengan jelas ke Sang Maha Sponsor, dan gue yakin di-approve. Dan… tadaaa...., satu setengah bulan setelah resolusi 2015 gue buat, gue dapet kerja. Setelah proses nyari kerja yang males-malesan dan wawancara yang gue jawab dengan bodoh dan asal, gue keterima!

Membiasakan diri untuk mengerjakan hal yang tidak sesuai dengan kita adalah sebuah hal yang sulit. Apalagi sampai memaksa diri untuk membuat hal tersebut nyaman dengan diri kita. Itu sama halnya seperti ketika lo gak suka sama cowok tapi akhirnya nerima itu cowok karena itu cowok mau bunuh diri. Bawaannya empet terus jadinya! -_-

Lalu pada akhirnya gue harus berperang dengan diri gue sendiri. 

Nah itu lah yang terjadi di gue. Di hari ke dua gue kerja, gue mau resign. Di hari ke delapan, gue galau teriak-teriak ke temen-temen gue kalo gue tersiksa batiniah kerja kantoran, dan itu terus berlangsung sampai hari ini. Tapi, selama dua bulan kerja, banyak terjadi perubahan dalam diri gue. Mau tau apa aja? Mari kita urai bersama satu per satu.
  1. Gue udah bisa bikin alis.
    Sebagai seorang gadis yang tumbuh besar di abad masa kini, entah kenapa membuat alis yang simetris nan rapih dan menarik adalah sebuah kewajiban. Gue pengen banget ngajak duduk bareng orang yang menciptakan konsep cantik yang seperti ini terus gue nasehatin supaya tidak membuat hajat hidup orang banyak susah. Men, tiap pagi, minimal 20 menit waktu gue abis buat ngegambar alis! Dan alis gue akan luntur setelah wudhu shalat zhuhur. Such a useless thingy. Pft...
  2. Gue jadi gak bisa bangun pagi.
    Gue gak tau hal heboh apa yang gue lakuin di kantor. Yang jelas kalo udah di rumah dan tidur, gue udah gak inget apa-apa lagi dan rasanya jam tidur itu selalu kurang. Padahal dulu kalo abis begadang sekalipun, abis shalat shubuh, gue masih kuat buat gak tidur lagi besokannya. Sekarang, jangankan begadang, buat bangun shalat shubuh aja nyokap harus teriak-teriak terus abis itu gue tidur lagi dan bangun di jam mendekati masuk kantor. Iya, dari awal masuk sampe sekarang gue selalu telat.
  3. Bye-bye tidur siang.
    Ini hal yang paling gue rindukan ketika menjadi seorang pengangguran. Bobo siang dan bobo sore. Gak perlu pembahasan soal ini, kalian tau sendiri kan gimana nikmatnya dua hal ini? Nomnomnom~
  4. Berhasil membuka tantangan-tantangan selanjutnya.
    Ketika baru awal masuk gue berusaha buat suka sama kerjaan, tapi hasilnya nihil karena gue emang gak cocok. Gue menganut sistem asal kelar dan kalo udah kelar gue minta nambah dan malah lebih banyak yang gak gue selesaiin. Gue membenarkan hal-hal itu terjadi karena, yaa...bukan passion

    Berhubung gue orang yang LOC-nya internal banget, jadinya semua hal gue refleksi ke diri gue lagi. Gue selalu menyalahkan diri gue yang susah beradaptasi untuk hal yang gak gue suka. Gue jadi suka nanya apa sih sebenernya yang gue mau, apa sih yang harusnya gue lakuin, gue harusnya tuh ngapain sih di sini, gue kok buang-buang waktu banget ngerjain yang gak gue suka, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang senantiasa menemani hari-hari kegalauan gue.

    Lalu pada akhirnya gue belajar lebih jauh untuk mengeksplor diri gue. Ternyata gue emang punya passion di HR. Pekerjaan yang berusaha gue sayangi ini ribet, makanya gue gak suka. Untuk itulah gue di situ, membuat sesuatunya lebih mudah. Pekerjaan gue tidak memenuhi SOP seperti yang bangku kuliah ajarkan. Maka dari itu gue ada di situ, untuk menegakkan standar-standar itu. 
    Perusahaan menggaji kecil dan tidak sesuai UMR, hati gue capek ngeliat ketikadilan jelas-jelas di depan mata gue. Untuk itu gue ada. Memastikan orang-orang itu mendapatkan sesuai dengan haknya.
    Ke depannya gue jadi kayak jelas melihat pemetaan karir gue. Gue pengen berkarir di HR sampai memahami seluk beluk masalah yang terjadi sampai di level paling bawah. Ke depannya gue mau belajar di level menengah, lalu sampai di level yang paling atas. Ketika gue udah punya semua ilmunya, gue pengen nerusin buat jadi konsultan yang berpengalaman.

    Kemudian gue membuat tantangan baru. Apakah gue bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan gue tadi? Gue yakin gue bisa. Gak usah ngomong soal gaji. Cukup aja udah Alhamdulillah. Ini bukan lagi soal kerja dan bayar cicilan motor atau beli beras. Lebih dari itu, gue bekerja di sini adalah untuk kerja itu sendiri.
    I wish I can prove my words!


Kembali pada topik yang diangkat di paragraf pertama.

Soal kemunduran. Yep, saya menemukan diri saya di siang-siang bolong yang penuh tekanan dari sana-sini. Di usia yang ke dua puluh tiga tahun ini akhirnya gue menemukan apa keinginan gue. Mungkin gue bisa resign sekarang terus lanjut kerja yang sesuai passion gue, tapi setelah gue telusuri, gue ternyata tidak mau. 

Siapa sih yang gak mau kerja sesuai passion dengan gaji yang besar? Semua pasti mau. Tapi sekarang gue sedang ingin menyelesaikan apa yang gue mulai. Gue mau mengondisikan diri gue di tempat yang sangat gue usahakan untuk gue suka. Gue mau membuat perubahan di sebuah sistem yang sudah berjalan. Gue ingin membuktikan bahwa perusahaan meng-hire gue karena gue punya kelebihan di bidang di mana gue di gaji--rekrutmen. Bukan karena gue harus melaksanakan pekerjaan dengan benar, tapi lebih ke bagaimana gue melakukan hal-hal benar yang seharusnya dilaksanakan.

Soal post-power syndrome. Gue ngerasa gue lebih berjaya ketika dahulu kala. Gue lebih berani, lebih nekat, lebih berhasil melakukan banyak pencampaian dalam bentuk real. Tapi sekarang apa? Untuk bangun pagi aja susehnye minta ampun. Nah sekarang mungkin waktunya gue buat mengembalikan masa-masa kejayaan gue itu, tapi dalam scope lain. Dulu gue masih egois, sekarang juga sih hehehe. Gue gak peduli orang lain mau gimana, yang jelas keinginan gue harus tercapai. Tapi sekarang gak bisa gitu. Gue harus menyesuaikan kapasitas gue untuk banyak kepala. Contoh kecil hal yang ingin gue lakukan; gue mau perusahaan memakai sistem rekrutmen dan development yang akan gue buat. Anggap aja ini kegilaan selanjutnya yang harus gue kerjakan dan harus selesai sebelum gue resign nanti. :p

Waktu gue minta sama Allah mau kerja terus dikasih kemudahan, gue yakin Dia gak main-main. Semua pasti ada hikmahnya. Gue yakin banget. Dan sekarang, tugas gue adalah bergerak. Manakah yang lebih indah pada akhirnya nanti? Yang mau untuk ditempa atau bermanja diri? Mungkin materi bisa dijadikan ukuran kesuksesan dari seseorang, tapi buat gue, kemenangan ketika bisa menyelesaikan target-target yang dibuat, yang sifatnya lebih personal, itu bahagianya luar biasa. Karena bahagia yang sederhana sudah terlalu mainstream!



Btw, apakah tujuan hidup gue di HR ke depannya yang gue buat di tulisan ini karena lingkungan yang menghamili pemikiran gue supaya mikir ke sana? Hmmm.....


October 24, 2014

Soal Menulis

Beberapa tulisan berhak berlanjut dan selebihnya bisa dibuang ke tong sampah. Dan sepertinya tulisan gue masuk ke golongan yang ke dua. Jenis tulisan yang bisa dibaca hanya di paragraf awal, dan kemudian, entah kenapa gue yakin pembacanya pasti mual dan langsung nutup tulisan gue, bahkan sebelum sampai di bagian tengah. Gak ngerti di bagian mananya yang salah. Tapi, yaa… gue ngerasa  gak pernah bener dengan hampir semua tulisan gue.

Gue mungkin tipe orang yang abis nulis terus pas besoknya baca ulang tulisan gue lagi malah enek sendiri. Terus mikir, “Ya Allah, ini apa sih yang gue tulis?” Dan untuk ke sekian kalinya gue sering banget mikir kayak gitu. Bukan tulisan yang agak panjang aja yang gue pajang di blog, tulisan-tulisan irit gue di Timeline Twitter gue juga sering mendapat perlakuan yang sama dari si empunya akun. Di blog, lebih banyak tulisan yang ada di draft dari pada di publish, di Twitter juga gitu, bahkan lebih banyak lagi yang dihapus. Lagi-lagi gak ngerti kenapa, tapi gue sering ngerasa jijik gitu sama tulisan gue. Hem.

Tes minat dan bakat gue waktu kuliah menunjukkan kalo gue ini punya minat dan bakat di bidang literasi. Setelah gue pikir-pikir, mungkin literasi bagian membaca dan berimajinasi dengan kata-kata. Bagian ngoreksi yang typo dan struktur juga agak jago, apalagi kalo lagi stalking terus nganalisa mana yang bohong, mana yang pencitraan. Atau nyanyi-nyanyi gak jelas sambil liat azlyric.com untuk memastikan kata-kata yang gue nyanyiin bener mungkin termasuk ke dalam literasi juga? Yang jelas kayaknya sih bukan di bagian menulis. Gue payah di bidang itu.

Mungkin mindset di guenya yang udah tercipta sedemikian rupa kalo menulis itu pekerjaan yang sulit dan menyebalkan. Mungkin. Gue lebih milih buat ngomong secara verbal dan non verbal, maksudnya, perbincangan di dalam kepala gitu, lho.  Ada banyak banget ide yang pengen gue tulis. Banyaaaaakkkkkk banget……... Ini tuh kayak isi kepala gue balap-balapan sama jari gue. Jadi ketika ditulis, idenya udah kemana-mana, tapi jari gue masih di situ aja, masih ngurusin huruf, sementara ceritanya udah lari-larian kemana tau. Terus semuanya akhirnya mentah terus berhenti, terus stuck, terus gak tau lg mau nulis apa,

Gue pengen jadi generasi yang terus menulis dan membaca. Gue pengen berada di deretan orang-orang intelek yang gemar menulis dan membaca. Gue pengen tetep nulis, tapi selalu ngerasa kesulitan yang sumbernya di dalam kepala dan entah gimana ceritanya gue selalu ngerasa gak punya keahlian buat yang satu itu. Coba aja ada alat yang bisa nulis otomatis apa yang kita omongin kaya di HER gitu. Mungkin menulis bisa jadi lebih mudah.

So, mungkin kalian para pembaca gak sempet baca sampai bawah apa yang gue tulis deh. Hahaha!


A Broken Petrichor

Di luar hujan turun mau-tidak-mau. Sebentar mendung, kemudian deras, tidak lama kemudian berhenti, dan kembali terik, lalu gerimis yang tidak berkesudahan berlangsung sampai malam. Biasanya Lika akan menepi ke jendela kamarnya yang terletak di lantai dua, menggulung lengan kemejanya yang kebesaran sampai siku sambil mengecap cokelat panas perlahan-lahan. Lika benci hujan dan memilih untuk menontonnya saja sambil membaca pesan apa yang turut disampaikan lewat bulir-bulirnya.

September 23, 2014

Perihal Buku dan Tetek Bengek Ketika Meminjamkannya

Pada akhirnya gue bisa menuliskan di CV kalo gue punya hobi membaca. Iya, gue suka baca buku. Beberapa tahun yang lalu gue memutuskan untuk lebih sering membeli buku daripada meminjamnya dari teman. Pertama, beberapa buku itu pengen rasanya gue baca berkali-kali dan kalo terus-terusan minjam gak enak sama orang yang punya, takut ngerepotin. Kedua, gue mau buat perpustakaan pribadi, gue suka ngeliat buku berjejer rapi di rak gitu dan mungkin sambilan buat observasi diri juga kalo gue itu lebih suka genre buku yang mana.

Makin lama hasrat membaca gue pun kian bertambah. Gue gak pernah bisa menahan diri buat gak beli buku kalo udah di pameran buku atau di toko buku. Karena gue masih belum bisa menghasilkan uang sendiri dalam jumlah yang banyak, hasrat gue buat punya buku baru itu kayak ke-block dan tidak tersalurkan dengan  baik. Sampai pada akhirnya ketika jaman awal kuliah beberapa teman memperkenalkan gue dengan Kwitang. Lo tau rasanya? Surga, men! Berdiri di antara buku-buku yang sebegitu banyaknya dan murah-murah pula. Gue kayak menemukan adanya benang merah di antara semua ini. Jadilah gue beberapa kali (hampir sering) beli buku-buku di sana. Gak lama setelah itu pasar Blok M Square bagian bawah juga membuka pintu surga yang lain. Jadilah akhirnya gue suka menyisihkan uang yang sedikit-sedikit buat mengunjungi surga-surga itu dan membeli buku di sana. Perihal itu buku bajakkan, gue gak peduli. Yang penting gue bisa baca buku yang gue mau.

Sampai pada akhirnya seorang teman berkata, "Ketua  komunitas menulis kok beli bukunya bajakkan? Gak menghargai karya orang lain banget!" Jeng jeng. Gue merasa hina.

Selama ini gue gak pernah beli barang-barang palsu atau KW super atau sejenisnya. Dan selama itu pula gue gak sadar kalo beli buku bajakkan itu sangat-sangat bertentangan dengan diri gue. Oke, gue menyerah. No more buku bajakkan!!!

Semenjak itu akhirnya gue berusaha lebih giat lagi ngumpulin dan menyisihkan uang. Minimal kalo lagi ngunjungin toko buku atau pameran buku ada lah buku yang kebeli. Kadang-kadang malah sampe menghabiskan uang di dompet dan rela ngirit-ngirit setelahnya. Mungkin semacam balas dendam gitu kali ya, nahan-nahan buat beli buku terus sekalinya ada kesempatan langsung gak kekontrol. Bad habbit dan jangan ditiru!

Seiring berjalannya waktu, Alhamdulillah gue punya beberapa buku dan udah punya mini library di kamar. Gue suka banget ngeliat jejeran-jejeran buku itu, buka sampul plastik buku baru dan ngerasain betapa halusnya cover depan dan lembaran-lembaran setelahnya. ngerasa bahagia gimana gitu setelahnya. Betapa bahagia versi gue itu sangat sederhana (re:murahan -_-).

Karena gue ini orangnya suka berbagi, gue suka cerita ke orang-orang tentang buku apa yang udah gue baca. Waktu nyeritainnya itu pun gue suka heboh dan kadang berlebihan. Jadinya mereka tertarik dan berniat untuk minjem buku yang gue baca. Pada akhirnya gue merelakan buku-buku ini berpindah tangan dengan harapan buku itu dibaca dan teman gue itu mendapat pengalaman berbeda dari apa yang dia baca. Nah di sini keselnya. Buku yang dipinjem itu gak pernah balik kalo gak ditagih.

Dulu pernah ada temen yang minjem empat buku Dan Brown gue yang tebel-tebel itu. Udah tiga tahun gak dibalikkin, gue udah minta juga gak direspon bagus. Akhirnya gue inisiatif sendiri buat ngambil langsung di rumahnya. Gue udah bilang dari siang mau main ke rumahnya buat ngambil buku. Rumah temen gue itu jauh, dan pas sampe di sana dia bilang dia gak bisa nemuin gue di rumahnya. Sampe akhirnya beberapa hari kemudian gue berhasil janjian dan nyamperin dia di kampusnya buat ngambil buku-buku itu. Buku gue cuma balik tiga dan dalam kondisi yang menyedihkan. Kertasnya  bergelombang karena kena air dan lecek di sana-sini. Apa yang gue bisa lakukan? Cuma menarik napas berat dan mengembuskannya. *sigh*

Di lain cerita ada seorang teman yang meminjam banyak buku. Dia lupa apa saja yang sudah dia pinjam, dan pas gue minta dia lupa naro nya dimana, dan meminta gue untuk mengikhlaskannya. Lalu pernah ada teman yang meminjam buku gue dan buku itu dia bawa kemana-mana. Di hari ke tiga bentuknya udah lusuh dan gak jelas. Karena gue bete liat buku gue jadi jelek, gue nyuruh dia bayarin itu buku. Di cerita lain, gue pernah maketin buku buat dibaca seorang teman. Bukunya udah nyampe di TKP, dibaca enggak, ilang iya. Di banyak cerita yang lain, buku gue berpindah dari satu orang ke orang lain dan gak pernah kembali ke rak nya semula.

Ya Allah, salah apa sih buku-buku saya?

Oke mungkin gue salah karena sering teledor ngasih ke sembarang orang dan lupa siapa yang udah dipinjemin sampai akhirnya buku-buku itu hilang. Tapi kemudian pertanyaan gue selanjutnya, dimanakah rasa penghargaan mereka terhadap buku-buku itu? Oh digeneralisasi aja, dimanakah rasa menghargai dan menjaga barang kepemilikan orang lain yang sudah diamanahkan?

Gue pernah minjem buku temen, dan gak sengaja kebawa tidur dan kelipet sampul depannya. Bangun-bangun ngeliat buku kelipet rasa bersalah gue udah kayak apaan tau. Siangnya gue langsung beli buku baru buat gantiin buku temen gue itu.

Iya sih kita emang gak bisa minta orang berbuat sama kayak kita. Tapi ya masa gak bisa minimal mendekati itu? Ini bukan soal bukunya sih mungkin, tapi gue ngerasa kecewa aja. Itu sebuah hal yang umum banget, lho. Menjaga amanah. Lo udah dikasih amanah buat ngejaga suatu barang. Pemiliknya udah ngejaga semaksimal mungkin, ketika barang itu berpindah tangan ya mestinya lo juga melakukan hal yang sama dengan apa yang pemiliknya lakukan terhadap barang itu. Iya gue pelupa dan kurang seksama, tapi kan hak gue juga pada akhirnya untuk mendapatkan barang-barang gue lagi dan kewajibannya si peminjam untuk menjaga dan mengembalikannya.

Akhir-akhir ini gue makanya berubah menjadi orang pelit. Gue akan menginterogasi orang yang mau minjam buku gue dan buat perjanjian kapan balikinnya. Dan malahan gue udah mulai kapok buat meminjamkan buku ke orang. Iya, hampir kapok.

Gue seneng kok kalo minjemin buku ke orang. Seneng banget malahan. Soalnya abis itu gue bisa sharing dan tukar pikiran. Dan gue suka banget buku-buku itu gak cuma mejeng di kamar tapi juga bisa bermanfaat buat orang lain. Tapi kemudian gue akan ngerasa kecewa kalo buku itu gak dibaca dan gak dijaga dengan baik, apalagi sampe gak balik.

Btw, gue gak akan pernah jera buat meminjamkan buku ke orang lain. Tapi, ya, mungkin akan menjadi lebih selektif (re: pelit). Dari semua ini gue belajar, bahwa dengan berani meminjamkan ke orang lain berarti berani juga untuk mengikhlaskan. Tapi lagi-lagi gue percaya kalo kepercayaan itu adalah suatu hal yang mahal. Dan menjaga kepercayaan itu gak ada apa-apanya kalo dibandingin sama harga buku itu sendiri. 


Ciao!



*tulisan ini dibuat di tengah kekesalan saya karena lupa meminjamkan Angels and Demons kepada siapa dan sama sekali tidak dapat mengingat rentetan kejadiannya. 

August 23, 2014

Persami di Rest Area Papandayan

Papandayan. Gunung dengan ketinggian 2.622 mdpl yang terletak di Garut itu menjadi pilihan ‘liburan’ untuk kami; aku, Adit, Sri, Wanda, Anita, dan Aa ‘Rifqi’ dalam rangka 17-an tahun ini. Sebenernya agak bingung waktu menyusun itinerary, soalnya kita semua belum pernah duduk di satu meja dan ngomongin ‘ini mau naik gunungnya gimana?’ Tapi, show must go on! Jadilah dengan modal sotoy perjalanan ini dapat terlaksana dan Jumat malam kami bertolak dari Jakarta.

Rencana awal naik bis gak jadi karena satu dan lain hal. Akhirnya Adit memutuskan untuk membawa mobil. Aku ke rumah Adit buat mengambil mobil lalu menjemput Anita dan Aa di Bintaro yang sudah menunggu selama berjam-jam dalam kondisi ngegembel (re: ngemper di pinggir jalan, ngegembel dalam arti sebenarnya).  Setelah itu kita menjemput Wanda di daerah Fatmawati yang ngaku kalo dia abis buka mobil orang dan mergokin kalau penghuni di dalamnya lagi ciuman. Gak sopan banget si Wanda ini. Ckckck. Kita terus menjemput Sri di rumahnya di daerah Bekasi yang ujungnya gak jelas di mana. Ketika sampai di rumahnya, muka dia bersinar cerah. Seolah-seolah dia baru aja terbebas dari penjara. Setelah diceramahin sama kakak-kakaknya Sri, jam 11 tepat kita berangkat. Here we go…

Emang dasar anak kota yang cuma modal ‘pengen naik gunung’, baru keluar komplek rumah Sri kita udah mulai nanya-nanya kalo ke Garut caranya gimana. Di Bekasi sendiri pun kita sempet nyasar karena salah baca marka jalan. Akhirnya setelah tanya sana-sini, kami berhasil masuk tol yang tepat untuk satu tujuan: Garut. 

Selama perjalanan ini kami hampir memasuki semua rest area yang ada di tol. Entah itu untuk pipis, ngelurusin kaki, atau nanya-nanya jalan yang benar. Kedudukan Adit sebagai supir di jalan sempat pula digantikan oleh Wanda karena Adit mengantuk. Selama Wanda memegang kendali mobil, dia berhasil membuat kami semua melek dan mengingat Allah dengan ber-istighfar lebih banyak. Alhamdulillah, pada pukul 5 pagi kita sampai di daerah Garut dengan selamat dan menyempatkan shalat shubuh di masjid terdekat lalu kemudian re-packing.

Pukul setengah 7 pagi kami semua sampai di gapura menuju Papandayan. Banyak rombongan pendaki yang terlihat sedang istirahat dan carter-carter mobil pick-up. Kita sendiri masih optimis dapat mencapai pos dengan mobil Kuda Adit. Setelah jalan sekitar 15 menit, jalanan menuju pos mulai rusak, ke sananya jalanan malah tambah rusak lagi. Beberapa kali bemper mobil beradu dengan  kerikil batu-batu jalan yang besar-besar dan lubang yang cukup dalam di sana-sini. Tidak hanya itu, mobil-mobil pick up yang arogan beberapa kali menyalip mobil, entah itu dari belakang atau dari depan. Karena jalanan yang tidak memungkinkan dan ketakutan dari kami akan kondisi yang tidak diinginkan terjadi, akhirnya kami memutuskan untuk naik ojeg (25.000 per motor) agar bisa sampai di pos dan menitipkan mobil Adit di rumah warga terdekat.

Welcome to Papandayan

Setelah melewati jalan yang sangat tidak memanusiakan pantat kami, akhirnya pada jam 8 ojeg yang kami tumpangi berhasil mengantarkan kami ke pos pendaftaran dengan utuh. Di pos pendaftaran atau yang biasa disebut Camp David, aku mendaftarkan kelompok dengan membayar 5.000 rupiah untuk tiap kepala. Setelah itu kami sarapan, stretching asal-asalan dan kemudian berdoa. Perjalanan pun dimulai.

Trek pertama papandayan kental sekali dengan jalanan menanjak dengan batu-batu kecil dan besar serta bau belerang. Di beberapa titik kita bisa melihat kawah yang masih aktif dan bau belerang yang sangat menyengat. Anita mulai kewalahan di beberapa langkah pertama. Maklum dia pendaki pemula dan daypack-nya sangat tidak nyaman. Aku sendiri agak memburu langkah kakiku lebih cepat karena ingin cepat-cepat sampai di tempat yang ada pohonnya. Bau belerang sangat menyulitkanku untuk bernafas.



Aku dan Sri sampai duluan di tempat peristirahatan yang cukup teduh. Menyusul agak lebih lama; Wanda, Aa, Anita dan kemudian Adit yang sudah membawa dua tas. Miliknya dan daypack-nya Anita. Sampai hari ini aku masih kagum dengan pendaki yang bersedia membantu membawakan tas temannya. Seseorang yang mau menanggung beban yang seharusnya tidak ia tanggung. Keren, brok!

Setelah makan Inaco, minum, selfie, dan membagi rata isi tas Anita, akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Trek memasuki hutan dan mulai menurun.

Rule number 1: Kalau ada turunan di gunung, berarti ada? Tanjakkan!

Yak. Kami mulai menuruni jalanan, kemudian melewati sungai kecil, lalu dihadirkan dengan tanjakkan yang cukup panjang. Treknya tidak terlalu lebar dengan kanan-kiri pohon yang cukup rapat. Nafas kami sangat boros di sini saudara-saudara. Di trek ini kami bergantian istirahat dan duduk setiap ada lapak kosong di jalur. Kami mulai mengutuki diri karena sudah tua dan sangat malas berolahraga. Tidak lama kemudian kami keluar dari hutan dan melalui tanjakkan panjang yang baru dengan sinar matahari yang langsung menyengat dan menyoroti setiap langkah. Percayalah, jika kalian ke sini ketika musim kemarau, kalian akan ragu untuk beristirahat dan berusaha untuk jalan secepat mungkin. Huah. Panasnya itu lhooo... ajib!

Beberapa saat kemudian, aku sampai di pos 2 untuk registrasi ulang. Waktu itu baru aku dan Sri yang sampai. Kami mencari-cari spot paling enak untuk istirahat. Sampai akhirnya aku menemukan tempat dengan rumput-rumput tinggi yang tebal. Entah kenapa jiwa Syahrini memasuki ragaku. Aku melepas carrier dan langsung guling-gulingan di atas rumput. I feel free, gaessss. I feel free……… Panas matahari dan tanjakkan yang aku lewati tadi tidak ada artinya lagi jika dibandingkan dengan nyamannya rumput-rumput itu.

Setelah semua personel kumpul dan mendengar dari pendaki lain kalau Camp Salada sudah penuh, entah bagaimana kami memutuskan untuk buka camp di pos 2 dan bukan di Camp Salada, padahal Camp Salada tinggal jalan 20 menit lagi. Memang pemalas dan mudah menyerah sekali kami ini. Ckckck. Kami adalah rombongan pendaki pertama yang membuka tenda di Pos 2 dan nantinya menjadi rombongan terakhir yang membongkar camp di Pos 2. 

Kami pun mulai untuk menata hidup kami di gunung. Urusan tenda dikerjakan oleh kaum pria. Sri mulai mengeluarkan logistik dan menata barang-barang, sementara itu aku dan Anita mulai untuk memasak. Anita mulai memotong-motong sayur dan aku mencuci beras. Aku begitu terpukau dengan kompor unik bentuk bunga matahari mekar yang dibawa Wanda sampai akhirnya kompor itu zonk. Tidak dapat digunakan. Jeng-jeng. Wajah kami menjadi panik. Gak kebayang gimana caranya bisa hidup di gunung tanpa ada kompor (lebay mode: on). Kami menggunakan segala cara yang kami bisa untuk membuat kompor menyala. Aku menyuruh Wanda meniup-niup lubang gas, takut-takut kalau salurannya tersumbat. Wanda mencari solusi ke pos untuk meminta perbaikan dan hasilnya nihil. Adit dan Sri mencari pinjaman kompor, tapi karena mereka berdua cupu dalam hal sosped, hasilnya juga nihil. Sementara itu Aa dan Neng Anita masih terus memotong sosis dan sayur-sayuran.

Menurut Wanda, kompor harus dibongkar. Ia yakin salurannya tersumbat. Satu-satunya benda yang aku tahu yang dapat mengubah nasib kami adalah Victorinox. Akhirnya aku berhasil menemui seorang pendaki yang kemudian menjadi malaikat kami. Aku meminjam Victorinox miliknya, tapi ia tidak memberikannya namun meminta kompor kami. Belakangan aku tau kenapa ia tidak mau memberikannya. Merk pisau lipat miliknya bukan Victorinox melainkan Leatherman yang harganya 1,8 jt. Hmm… lebih mahal dari uang wisuda plus jait kebaya. Mas-mas ini kemudian membongkar kompor kami, ditiup-tiup, menyulapnya, dan kemudia menyala. Waaaa…. Tidak bisa dibayangkan betapa senangnya kami saat itu. Akhirnya kami tidak jadi makan nungget mentah. Di akhir pertemuan ia memperkenalkan namanya sebagai Limar Pendaki Gunung. Terima kasih, Mas Limar.

Pelajaran pertama di hari pertama: cek semua kondisi dan kesehatan perlengkapan camping sebelum memulai perjalanan. Kita gak pernah tau apa yang bakalan terjadi di atas gunung.

Kami lalu kembali ke tenda untuk melanjutkan masak dan kemudian makan. Ada kejadian lucu saat membuat makan siang. Anita meminta Sri untuk menggeprek bawang putih. Dengan sekuat tenaga Sri menggeprek bawang putih dan menjadikan piring plastik sebagai alasnya. Bawang putih tidak hancur, piring plastiknya berantakan. Hahaha!

Makan siang dan cuci-cuci selesai. Kami berencana untuk jalan-jalan sore dan melihat sunset dari undakan yang tidak jauh dari camp. Untuk itu, kami memutuskan tidur siang terlebih dahulu. See? Hidup kami di gunung saat itu sangat menyenangkan! Habis makan lanjut bobo siang.

Setelah bangun dari tidur siang sampai sore, kami bermalas-malas ria di depan tenda. Karena kami adalah pemalas yang cepat lelah dan menyerah, rencana jalan-jalan mencari sunset batal. Ha ha ha. Suasana di sekitar camp menjadi lebih ramai, bahkan menjadi padat. Fyi, di Pos 2 ini kalian bisa menemukan gubukan yang bisa dijadikan mushalla, toilet dua bilik, warung (dalam arti sebenarnya), dan keran air yang menyala dimana-mana. I would like to say: Ini adalah Bumi Perkemahan Cibubur dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi.

Malam di gunung dengan taburan bintang adalah keindahan tangan Tuhan yang tidak dapat terlukis bahkan oleh maestro terbaik manapun. Seperti malam-malam di gunung lainnya, malam di Papandayan saat itu adalah malam yang membawa kenangan mendesak keluar, meminta untuk dikenang kembali. Aku merindukan orang-orang yang aku harapkan berjalan bersamaku. Aku merenungkan perjalanan yang aku lalui, dan melucuti satu-satu ego yang sering aku repress. Betapa pemandangan sekelibat yang aku lihat saat itu bisa menghadirkan drama panjang di dalam kepala selama beberapa waktu. Aku mencintaimu, Ya Allah. Pikirku saat melihat kabut mulai memeluk bintang satu per satu.

Naik gunung tanpa romantisme adalah hambar. Di perjalanan kali ini Aa dan Anita adalah bintangnya. Semenjak menapaki trek sampai turun, mereka berhasil membuat kami semua iri sekaligus enek. Malam itu sampai esok harinya Aa dan Anita terus-terusan mengulang percakapan yang sama. “A, sapu tangan neng mana?”, “A, liat kupluk neng gak?”, “Neng, senter Aa mana?”, “Neng, liat sarung tangan Aa gak?”. Sementara itu, sepanjang hari sampai keesokan harinya Adit terus-terusan ngomel, apalagi kalau Sri sudah melakukan kesalahan dan Anita udah mulai engap.

Kami lalu menata tenda lebih baik dan mulai memasak makan malam mewah a la anak gunung pun. Pertama-tama kami membuat agar-agar. Setelah itu aku dan Anita memasak bakso super enak. Kemudian kami menambahkan mi rebus untuk lauk tambahan. Menu selanjutnya kami memasak krim sup ayam. Selama di gunung, Aa adalah spesialis cuci piring dan mengambil air. Ia dengan lihainya menyeka bekas minyak dan sisa-sisa makanan di nesting dengan rumput-rumput di sekitar. Inget! Gak boleh pake sabun pencuci piring ya, guys.

Setelah kenyang, kami memutuskan untuk masuk tenda. Kami memilih untuk berdesak-desakkan dan hanya memakai satu tenda saja agar lebih hangat. Tenda satunya lagi kami gunakan untuk menaruh barang-barang. Keributan lalu berlanjut ketika mencari posisi yang enak di dalam tenda. Entah berapa kali pindah-pindah posisi sampai akhirnya menemukan tempat yang nyaman untuk tidur.

Wanda membuka percakapan dan mengajak kami untuk sharing karena di antara kami belum ada yang berniat tidur. Pertama-tama Aa mulai percakapan dengan ucapan terima kasih. Terima kasih untuk.... terima kasih buat….. terima kasih juga…. Ya begitulah pokoknya. Sharing kemudian disambung oleh Anita, Sri, Aku, Wanda, dan Adit yang kemudian curhat. Di sini kita mulai pembicaraan agak dewasa dengan membahas masalahnya Adit. Kalau bisa disimpulkan, pembicaraan malam itu seputar visi dan misi kehidupan. Intinya kita semua harus punya rencana, tujuan, tau apa yang kita mau, dan yang paling penting kita harus kenal dulu siapa kita. Masalahnya adalah ketika kemauan kita berbenturan dengan maunya orang lain. Hal itu kemudian harus disikapi dengan cara yang paling dewasa menurut masing-masing kita. Dealing with yourself first, before dealing with others. Mungkin kurang lebih gitu.

Jam mulai menunjukkan pukul sebelas malam. Satu per satu dari kami mulai lelah dan memutuskan untuk tidur, tapi tidak dengan mulutnya Wanda. Kita semua diajak ngobrol dan menanggapi apa yang ia bicarakan. Bahkan ketika tidak ada yang menanggapinya berbicara, ia terus saja mengoceh. Karena tidak tahan, akhirnya Sri meminta tukar posisi tidur denganku. Malam semakin larut dan pembicaraan kami semakin kemana-mana. Anita mengeluh kepada Aa bahwa ia tidak bisa tidur karena perutnya bergejolak dan mau BAB. Sri juga keluar tenda untuk pipis, kemudian diikuti Adit yang juga ingin pipis. Mereka berempat keluar tenda sementara aku dan Wanda mengobrol di dalam tenda. Balik dari toilet, mereka berempat membawa cerita lucu. Kejadian Anita BAB di toilet mengeluarkan ritme dan aroma yang tidak biasa dan mungkin akan menjadi unforgettable moment. LOL!

Kami semua bangun pukul setengah 5 pagi dan berencana untuk summit. Jam setengah 6 kami selesai sarapan dengan sandwich isi telur dan shalat shubuh. Lagi-lagi, rencana kami untuk mengejar sunrise gagal. Matahari sudah terlanjur menerangi kami yang masih bergerumul di tenda, padahal semalam habis membuat visi-misi. Apalah arti rencana untuk para pembuat wacana. Pft.

di depan tenda sebelum summit
Jam setengah 8 kami bersiap-siap dengan perlengkapan untuk summit. Setengah jam berjalan, kami sampai di Camp Salada. Camp Salada penuh sekali seperti Camp waktu Piala Dunia di Harpot ke 5. Benar-benar penuh seperti pasar malam. Ada untungnya juga kami menjadi pemalas dan membuka camp di bawah.

Camp Salada
Pelajaran ke dua: Jangan naik gunung pas lagi 17 Agustus. Ramenya gak santai.

Menurut informasi yang didapat, untuk mencapai puncak ada dua jalur. Jalur yang agak curam tapi lebih cepat mencapai puncak atau jalur yang santai tapi memakan waktu yang lebih lama, melewati Hutan Mati. Kami memilih jalur yang pertama. Setelah melewati Camp Salada, kami melewati padang Edelweis kecil dan berputar-putar di sana seperti terjebak dalam labirin selama 15 menit sebelum akhirnya menemukan jalur yang benar. Jalur kemudian mengerucut menjadi satu trek yang sempit dengan undakan yang cukup tinggi untuk kaki seukuranku, langkah-langkah yang mempertemukan lutut dan dagu. Jalur ini dipenuhi dahan dan ranting pohon-pohon tinggi di kanan-kiri. Kami perlu memegang ranting atau mengangkat tubuh kami dengan berpegangan pada dahan-dahan pohon. Jalur ini entah kenapa sangat menyenangkan untukku, tapi tidak untuk Anita. Ia berkali-kali mengatakan, “bentar dulu, Dit, gue engap.” 

Sinar matahari tidak masuk dan menjadikan udara hangat. Ketika berbalik badan, aku melihat Cikuray dan hamparan langit serta awan. Di tengah perjalanan, kami mendengar Indonesia Raya dikumandangkan. Kami ikut menyanyikannya dan ‘upacara’ sambil beristirahat. Satu setengah jam kemudian kami sampai di Padang Edelweis yang luas dan sangat indah. Kami menyempatkan diri untuk berfoto-foto dan membuat persembahan kecil untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada Yayasan AIDS Indonesia (YAI) berhubung kami semua adalah relawan yang sedang melakukan "KIE" di sana.


Happy Birthday Yayasan AIDS Indonesia!

Puas dengan padang edelweis yang luas dan indah, perjalanan kemudian dilanjutkan dengan memasuki hutan. Setengah jam kemudian kami sampai di Hutan Mati. For God Shake, hutan yang sudah kena terpaan lahar saja bisa indah begini jadinya. Aku, Wanda, dan Sri berlari memegang bendera (drama banget) menyongsong awan di depan kami. Kami mengibar-ngibarkan bendera merah putih dan menyelami keindahan Tuhan satu kali lagi. Subhanallah! Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan?!


Hutan Mati
Setelah selesai mengambil foto sebanyak-banyaknya kami memutuskan untuk turun. Di perjalanan turun aku banyak berpapasan dengan para pendaki yang kebanyakan berasal dari Jabodetabek. Dari penampilannya mereka terlihat seperti anak-anak kelas ekonomi ke atas yang ingin mencari pemandangan lain selain di kota dan mengabaikan SOP ketika naik gunung. Running shoes merk Nike, Adidas, dll menghiasi jalur. Mba-mba dengan tongsis yang selalu eksis di tangan tapi malah pakai sandal crocs. Kaki-kaki dengan celana jeans yang ketat dan berteriak-teriak ketika kakinya menyentuh air atau lumpur. Mungkin aku yang iri dengan penampilan mereka sehingga jadinya menulis paragraf nyinyir ini. Mungkin. Tapi, ayolah. Ini gunung. Keamanaan dan keselamatan tetap nomer satu.

Jam setengah 12 kami sudah kembali sampai kembali di camp. Setelah makan siang selesai dan shalat, kami memutuskan untuk packing dan bongkar tenda. Siang itu matahari lagi-lagi bersinar terik dan meninabobokan keinginanku untuk pulang. Malas rasanya menyusuri jalur dan berpanas-panasan kembali.

Sebelum pulang, aku dan Sri menyempatkan diri untuk buang air kecil dan kemudian menemani Anita untuk BAB. Lalu kejadian lucu berikutnya terjadi. Aku berdiri berjaga-jaga di depan bilik toilet dan kemudian, KABOOOM! Waaaa…. aku ditembak Anita dari dalam toilet. If you know what I mean. Bahahahak!

Pukul 3 kami turun dan mulai menapaki trek lagi. Naik-turun-naik-turun. Buka-tutup-buka-tutup-payung. Dan akhirnya sejam kemudian sampai di mess. Huh hah huh hah. Akhirnya sampai juga. Alhamdulillah. 

Kami lalu mencari-cari kendaraan yang dapat kami tumpangi untuk mencapai mobil Adit. Semua mobil pick up yang Wanda cari sudah penuh. Tidak lama kemudian aku menemukan abang ojeg yang mengantarkan kami naik kemarin. Kami pun lalu turun dengan naik ojeg (yang tidak memanusiakan pantat kami). Kemudian kami mengambil mobil Adit yang dititipkan di rumah warga. Jakartaaaaa, kami kembali.....

Dalam perjalanan pulang, Anita dan Aa mentraktir kami makan malam dalam rangka Anniversary mereka yang ke dua tahun. Kami pun makan malam enak di seafood pinggir jalan. Selamat dua tahun Aa-Anita. Semoga nikah dan langgeng!

Adit kemudian mengantarkan kami semua satu per satu sampai rumah masing-masing. Aku sendiri sampai di rumah pukul setengah 3 pagi.

Bye, Papandayan. Terima kasih untuk dua hari-nya yang menyenangkan, geng Persami!

Adit
Wanda
Sri

Aa 'Rifqi'
Anita
Aku
   
Geng Persami Papandayan