February 20, 2014

Chat Untuk Kamu

Ini untuk kamu yang menemani saya berpeluh main bebek-bebekkan di danau waktu itu. Mmm … foto kita berdua di bebek kuning itu masih saya simpan lho. Oh iya, kata teman saya, kamu mirip Afghan. Dia pengen banget ketemu kamu, ketemu kita.

Mungkin terdengar gila
Tapi nyatanya saya masih berharap pada kemungkinan
Iya, (sepertinya) saya masih suka kamu
Lucu ya?

Saya lupa apa teorinya. Pokoknya, saat melihat foto kamu muncul di chat box facebook saya, ingatan saya memunculkan satu gelembung memori yang pecah. Kenanganpun lalu tumpah ruah menghampar dilembaran yang sudah saya usahakan untuk saya tutup.  Sepertinya saya masih menyayangimu. Sayang? Hmm sepertinya tidak juga. 

Pertemuan satu hari. Main bebek-bebekan berdua. Hujan-hujanan bareng. Berbagi kerak telor. Berkeliling di Pondok Indah Mall. Dan kamu mulai menatap saya dalam. Lewat kacamata, lewat kaca spion mobil, lalu masuk dalam kaca hati saya. Ah, matamu itu. Demi Tuhan, saya menyerah. Entah kamu sadar atau tidak, pipi saya mulai memerah dan saya hanya bisa menunduk.

Baiklah, saya jujur. Saya suka kamu hari itu juga. Dan berlanjut pada pertemuan kita selanjutnya di chat box  facebook. Maaf saya tidak bisa menjalin hubungan pertemanan yang profesional dengan kamu, saya menaruh hati dalam setiap percakapan kita. Lalu diikuti harapan yang kian membumbung tinggi setiap harinya.

Dan pada akhirnya aksi sok jual mahal yang saya gencarkan dan terputusnya koneksi modem saya berminggu-minggu berujung pada perpisahan kita. Belakangan saya tau, kamu terlibat cinta lokasi dengan teman satu kepanitian waktu kamu ada acara di luar kota. Lalu kamu mengikatkan hati padanya dan menjalin cinta. Sumpah, saya menyesal. Mengutuki diri yang gaya-gayaan sok jual mahal. Mengutuki kekeringan di dompet yang dengan paksa memutuskan koneksi modem saya. Arghhh. Saya cuma bisa teriak waktu itu. Dalam hati tentunya.

Kamu tau? Kekurangtidaksukaanmu pada perempuan tomboy saat itu berhasil mengubah mindset yang saya anut selama bertahun-tahun. Iya, saya mulai membenahi diri. Dengan kamu, saya tau siapa saya. Dengan kamu, saya tau bagaimana mendekati Tuhan dengan cara yang indah dan saya mulai banyak meminta kamu dalam doa, mungkin Dia jadi cemburu. Dengan kamu, saya tidak pernah ragu bercerita atau takut tidak didengarkan. Dengan kamu, saya jadi paham betul arti memberi respon walau cuma dengan satu kata. Dengan kamu, saya melunturkan idealisme bodoh saya untuk tidak menggunakan emoticon dalam setiap percakapan, hahaha.  Dan dengan kamu, satu baris percakapan sederhana  menjadi satu simpul senyuman luar biasa penuh kebahagiaan.

Pertemuan satu hari. Main bebek-bebekan berdua. Hujan-hujanan bareng. Berbagi kerak telor. Berkeliling di Pondok Indah Mall. Lalu kamu mulai menatap saya dalam. Lewat kacamata, lewat kaca spion mobil, lalu masuk dalam kaca hati saya. Ah, matamu itu. Demi Tuhan, saya menyerah. Entah kamu sadar atau tidak, pipi saya mulai memerah dan saya hanya bisa menunduk.

Hal lucunya adalah, itu terjadi dua tahun empat bulan dan dua puluh tiga hari yang lalu.

Dan setelah semua ketidakmungkinan yang ada, saya masih berharap pada kemungkinan yang mungkin akan terjadi. Iya sayang, saya masih menunggu kamu tanpa alasan ataupun permintaan. Saya masih suka berkhayal kamu putus sama pacar kamu, lalu kita mulai chatting lagi di facebook. Hahaha

Saya tidak tahu harus menamakan ini apa. Saya tidak tau. Sungguh. Bisakah saya menyebutnya cinta?  Entahlah. Agak berlebihan sepertinya kalau dinamakan cinta. Oh iya, sebenarnya ada laki-laki lain yang sedang mengisi hati saya. Kamu tidak perlu merasa geer berlebihan seperti itu. Saya bukan perempuan putus asa yang stuck di chat box facebook kamu. Tapi yaa beginilah perasaan yang saya tulis malam ini saat melihat kamu di chat box facebook saya.

Cause if one day you wake up and find that youre missing me, and you heart still to wonder where on this earth I could be. Thinking maybe you’ll come back here to the place that we meet, and you see me waiting for you on the corner of the street. I’m not moving.
I’m The (Wo)Man Who Can’t Be Moved.


Ctrl + A + Delete

February 19, 2014

Kita Yang (Mungkin) Tidak Pernah Usai

Hai, kamu. Ketemu lagi.

Masih teringat dengan jelas bagaimana pertemuan kita yang sangat tidak disengaja di jalan pulang di trek Mahameru. Di gunung yang sama-sama kita torehkan namanya di bagian terpenting dalam hidup kita.

Aku masih ingat bagaimana kamu dengan bodohnya mengajakku berkenalan di trek turun lalu kemudian meminta Nutri Sari jeruk di botol minumku yang rasanya tidak enak karena bercampur pasir. Kemudian dengan lugunya meminta nomer telfonku dan memulai dengan basa-basi yang basi. Lucunya, aku tertawa. Bukan karena jenakanya ceritamu, tapi karena percakapan kita yang sangat-sangat basi isinya. 

Suatu hari aku pernah membayangkan kita berjalan dari Sudirman menuju Thamrin menikmati malam dan cahaya dari gedung-gedung lalu berhenti sejenak di Bunderan HI sambil menyesapi kehidupan.

Seminggu kemudian tanpa diundang kamu datang di pintu rumahku dan meminjam aku dari ayah-ibuku, ingin mengajakku berbahagia semalam katamu. Hahaha bodoh. Dan kenyataannya, kamu benar-benar membuat bayanganku saat itu menjadi malam yang begitu membahagiakan.


Kamu tau? Untuk kesekian kalinya aku merasa kalau kita itu agak sedikit aneh. Di saat yang lain pergi memburu pasir putih di Bali atau panorama keindahan Raja Ampat, kamu malah mengajakku membeli tiket kereta ekonomi ke Bogor hanya sekedar untuk melihat kuburan Belanda. Demi Tuhan, itu kita lakukan bukan karena mencari kesederhanaan kebahagiaan, melainkan karena kita memang tidak punya apa-apa lagi. Atau ketika yang lain meraya-riakan malam pergantian tahun dengan bakar-bakaran, kamu malah mengajakku ke atas gedung di dekat Bunderan HI. Katamu, kita berdua perlu ada di atas orang lain di tengah keriuhan dan kemeriahan.

Pada akhirnya kita memang dipertemukan untuk saling menyelami perbedaan dan persamaan kita masing-masing. Aku masih ingat bagaimana dengan bodohnya kita bertengkar hebat di Kota Tua karena aku ngotot mau jalan kaki dan kamu lebih ngotot lagi mau naik sepeda. Atau ketika kita sama-sama berlari sekencang-kencangnya di pinggir pantai di Ancol untuk melihat ujung matahari tenggelam. Kita akan terus bertengkar untuk hal-hal sepele dan beberapa saat kemudian akan menertawakan apa yang kita ributkan. Kita akan berbahagia untuk hal kecil yang remeh untuk kemudian kita syukuri keberadaannya.


Sayang, ketika kamu memberikan gambaran kehidupan masa depan untuk dilewati bersamamu, aku tau aku tidak perlu berpikir lagi untuk menyetujuinya. Aku tau kamu tidak sedang berjanji. Aku tau kamu sedang membuatnya nyata.


Aku lupa pernah mengatakan ini sebelumnya atau tidak. Bahwasannya, aku mencintaimu setiap kali senyummu menyapa tatapan mataku. Setiap kali tanganmu mengesampingkan hal-hal yang sedang aku risaukan. Setiap kali kita ada. Entah berapa banyak rasa terima kasih yang aku langitkan untuk setiap kesempatan yang telah diberikan.


Hari ini aku sedang merindukanmu. Merindukan kita. Aku sedang berusaha menuntun tanganku untuk tidak lagi menyeka air mata yang turun tanpa diminta. Mungkin disana, kamu juga sedang membantu membasuh rindu di kedua pundakku lalu memeluknya dengan hangat dari belakang dan meminta kepada Tuhan dari dekat untuk selalu menjagaku. Seperti biasa.

Aku mencintaimu. Semoga kamu tenang bersama Dia yang lebih kamu cintai dari apapun.

September 15, 2013

Nona, Lihat Aku

Nona, 
Aku ingin menjadi senja yang kehadirannya kau nantikan tiap sore. Atau menjadi malam yg dengan lancangnya menjaga lelap tidurmu.
Aku sungguh iri pada langit yang bisa memanjakan matamu lalu membawa kedamaian merasuk ke dalam hatimu.
Bukankah semua warna-warna itu membuatmu terpejam lalu kemudian tersenyum? Ah, kau sungguh cantik saat itu!

Nona, 
Sesekali perkenanlah aku menjadi pagi yang karena kehadirannya, harapan-harapan jatuh tepat di pelupuk matamu.
Kalau bisa aku menjadi air matamu, izinkanlah. Karena setelah itu, aku akan pergi melihat senyuman keluar dari bibir manismu.

Nona,
Aku cemburu. 
Aku iri pada Tuan yang namanya selalu kau rapal dalam doa-doa yang kau langitkan.
Aku ingin menjadi Tuan yang kehadirannya kau jaga rapi di sudut-sudut hatimu. Terbungkus dalam kesyahduan bisu lakumu.
Aku sungguh ingin menjadi Tuan yang namanya kau hadirkan di sepertiga malammu. Yang dengan menatapnya, kau kumpulkan keberanianmu.

Nona,
Perkenankanlah aku menjadi Tuan yang kepadanya setiap kesempatan kau perjuangkan. Menciptakan waktu untuk membunuh rindu.
Izinkanlah aku menjadi belenggu yang memenjarai hatimu. Aku berjanji menjadi tahanan yang bisa kau tawan tiap waktunya.

Nona, 
Lihatlah aku.

July 19, 2013

Lalu?


Lalu kenapa bila pada akhirnya aku menyukai caramu berkata-kata? Tiap-tiap baris yang tertulis bisu lalu terdengar menjadi begitu syahdu. Bukankah kau sedang bercerita dengan untaian kalimatmu itu?

Lalu kenapa bila pada akhirnya aku menyukai caramu tersenyum? Tiap-tiap senyum yang terukir turut membentuk lengkungan manis yang hadir di semburat wajahmu. Bukankah ada kebahagiaan yang hadir dan terpancar di senyummu yang tulus itu?

Lalu kenapa bila pada akhirnya aku menyukai caramu menatap? Tiap-tiap sorot yang terpancar di kedua matamu terlihat begitu menohok lalu membimbing hati untuk meresapinya. Bukankah dirimu sedang menyongsong sekelebat titah lewat ketegasan di matamu itu?

Lalu kenapa bila pada akhirnya aku menyukai caramu bersuara? Tiap-tiap irama yang keluar dari bibirmu terdengar begitu merdu dan pada akhirnya merasuk begitu dalam ke jiwa. Bukankah suara-suara itu yang akhirnya memimpin perjalan hati?

Lalu kenapa bila pada akhirnya aku menyukai semua yang ada pada dirimu?

Menunggumu



Pagi adalah waktu yang tepat bagiku untuk melangitkan doa-doa dan harapan. Memohon kepada Yang Maha Pemberi untuk menyajikan keberhasilan yang manis untuk semua usaha-usaha yang akan kau lakukan. Berjanjilah untuk berjuang. Aku menunggumu disini.

***

Siang adalah waktu yang tepat bagiku untuk mengarungi layar digital alat komunikasi kita. Mengiringimu dengan kata-kata penuh semangat yang aku harap dapat membasuh sedikit peluhmu dari matahari yang dengan bijaknya menguji usaha-usahamu. Berjanjilah untuk bertahan. Aku menunggumu.

***

Sore adalah waktu yang tepat bagiku untuk mendramatisir keindahan langit. Mengucap syukur kepada Sang Maha Indah berkali-kali dan kemudian menyelami pikiranku sendiri. Senja sering kali menyelaraskan kerja otak dan hati. Di sela kesibukanku ini, pikiranku tidak bisa pergi darimu. Berjanjilah untuk setia. Aku akan selalu menunggumu.

***
Malam adalah waktu yang tepat bagiku untuk bercengkrama dengan bayang-bayangmu. Sambil meninabobokan kelelahan, aku memejamkan mata yang masih membuat hati tetap terjaga. Di anganku, ada kebahagiaan yang aku sematkan dirimu di dalamnya. Dengan lancangnya aku memintamu kepada Yang Maha Pemberi untuk memenuhi masa depan yang ada kamu di dalamnya. Berjanjilah untuk menungguku. Aku  masih menunggumu.